Reporter: Alya Fathinah | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah melemah tipis di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran gagal mencapai kesepakatan.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot pada Senin (13/4/2026) ditutup melemah 1 poin ke level Rp 17.105 per dolar AS.
Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto menilai pelemahan rupiah dipicu oleh aksi jual investor seiring meningkatnya sentimen risk-off di pasar keuangan global.
Baca Juga: Kinerja Darya-Varia (DVLA) Tumbuh Moderat, Ini Rekomendasi Sahamnya
Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga datang dari dalam negeri, terutama adanya peningkatan permintaan valuta asing (valas) untuk kebutuhan pembayaran dividen perusahaan serta impor energi yang lebih mahal.
“Permintaan valas domestik meningkat di tengah kenaikan harga minyak sehingga menambah tekanan terhadap rupiah,” ujar Myrdal kepada Kontan, Senin (13/4/2026).
Myrdal menambahkan, potensi pergerakan rupiah ke depan juga akan dipengaruhi oleh dinamika arus masuk valuta asing.
Menurutnya, penguatan rupiah berpeluang terjadi apabila Indonesia mencatatkan arus masuk valas yang kuat, terutama dari pendapatan ekspor komoditas unggulan seperti CPO, batu bara, dan mineral lainnya saat terjadi lonjakan harga (windfall).
Selain itu, penerbitan utang global pemerintah dalam denominasi valuta asing, khususnya tenor panjang, juga dapat meningkatkan pasokan valas di dalam negeri dan membantu menopang stabilitas rupiah.
Sebaliknya, jika arus masuk valas terbatas di tengah tingginya kebutuhan impor dan pembayaran eksternal, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut.
Baca Juga: Kondisi Geopolitik Memanas, SR024 Diserbu Investor Kuota Tersisa Sedikit
Myrdal menekankan, peran Bank Indonesia akan krusial dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi.
Untuk jangka pendek, ia memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang support di Rp 16.880 dan resistance di Rp 17.300 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













