Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan ditutup melemah pada perdagangan hari ini.
Mengutip data Bloomberg, rupiah spot ditutup pada level Rp 17.090 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Kamis (9/4/2026), melemah 0,46% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.012 per dolar AS.
Sejalan dengan itu, rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ada di level Rp 17.082 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (9/4/2026), melemah 0,43% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.009 per dolar AS.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah kali ini dipicu oleh memburuknya sentimen global, terutama akibat lonjakan harga minyak mentah dunia.
Baca Juga: Anak Usaha Medco Energi (MEDC) Akan Terbitkan Surat Utang Senior US$ 200 Juta
Kenaikan harga energi tersebut didorong oleh ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, termasuk isu gencatan senjata serta potensi pembukaan kembali Selat Hormuz.
"Posisi rupiah masih akan didikte oleh perkembangan di Timur Tengah. Hingga saat ini, pasar umumnya masih meragukan bahwa gencatan senjata dapat dipertahankan mengingat Israel masih terus mengebom Lebanon," ujar Lukman kepada Kontan, Kamis (9/4/2026).
Kondisi ini membuat tekanan terhadap rupiah diperkirakan belum mereda dalam waktu dekat.
Selain faktor eksternal, ruang intervensi otoritas juga dinilai semakin terbatas. Lukman menyebut, cadangan devisa Indonesia terus mengalami penurunan dan kini berada di level terendah sejak Juli 2024.
Baca Juga: Bidik Pertumbuhan Baru, Begini Ekspansi Bisnis ABMM pada Tahun 2026
Perlu diketahui Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa Indonesia sebesar US$ 148,2 miliar pada akhir Maret 2026. Angka tersebut melorot dibanding posisi di akhir Februari 2026 yakni sebesar US$ 151,9 miliar.
Menurut Lukman, ini berpotensi membatasi langkah intervensi yang dilakukan BI untuk menahan pelemahan rupiah.
Untuk perdagangan Jumat (10/4/2026), Lukman memperkirakan rupiah masih akan bergerak dalam tekanan seiring sentimen global yang belum kondusif.
Ia memproyeksikan rupiah akan berada di kisaran Rp 17.000 - Rp 17.050 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













