kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.772.000   35.000   1,28%
  • USD/IDR 16.984   11,00   0,06%
  • IDX 9.020   -114,24   -1,25%
  • KOMPAS100 1.240   -15,15   -1,21%
  • LQ45 874   -10,78   -1,22%
  • ISSI 330   -4,13   -1,24%
  • IDX30 446   -8,48   -1,87%
  • IDXHIDIV20 520   -18,47   -3,43%
  • IDX80 138   -1,67   -1,20%
  • IDXV30 143   -5,70   -3,84%
  • IDXQ30 142   -3,47   -2,38%

Rupiah Melemah dan Dana Asing Kabur, BI Diprediksi Rem Suku Bunga


Rabu, 21 Januari 2026 / 10:15 WIB
Rupiah Melemah dan Dana Asing Kabur, BI Diprediksi Rem Suku Bunga
ILUSTRASI. Di tengah tekanan global yang belum mereda, stabilitas nilai tukar rupiah kini menjadi pertimbangan utama arah kebijakan moneter.(ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)


Reporter: Narita Indrastiti | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan kembali menahan suku bunga acuan pada level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Rabu (21/1/2026). Di tengah tekanan global yang belum mereda, stabilitas nilai tukar rupiah kini menjadi pertimbangan utama arah kebijakan moneter.

Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai, keputusan BI untuk bersikap wait and see sejalan dengan konsensus pasar, setelah bank sentral memangkas suku bunga sebanyak lima kali sepanjang 2025. 

“Fokus kebijakan BI kini semakin bergeser ke upaya menjaga stabilitas Rupiah, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi,” tulis Analis Mirae Asset Jessica Tasijawa, dalam riset Rabu (21/1/2026).

Sikap BI tersebut sejalan dengan ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menahan suku bunga di level 3,75% pada pertemuan FOMC Januari 2026. Dengan kondisi tersebut, ruang pelonggaran lanjutan bagi BI menjadi semakin terbatas, mengingat pentingnya menjaga diferensial suku bunga untuk meredam tekanan arus modal keluar.

Baca Juga: Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Rp 16.953 Per Dolar AS, Mata Uang Asia Bervariasi

Tekanan terhadap rupiah memang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Hingga awal tahun ini, rupiah tercatat melemah sekitar 1,6% secara year to date (ytd) ke level Rp 16.962 per dolar AS, menjadikannya mata uang dengan kinerja terburuk kedua di kawasan Asia setelah won Korea Selatan. Sentimen global yang cenderung risk-off akibat meningkatnya risiko geopolitik mendorong investor global memilih aset aman.

Permintaan terhadap aset lindung nilai tercermin dari lonjakan harga emas yang kembali mencetak rekor baru di atas US$ 4.700 per troy ounce. Kondisi ini terjadi meskipun indeks dolar AS (DXY) relatif melemah ke level 98,7, mengindikasikan bahwa investor masih bersikap defensif terhadap aset pasar berkembang, khususnya mata uang.

Dari sisi arus modal, tekanan terhadap rupiah juga diperkuat oleh keluarnya dana asing. Pada pekan lalu, tercatat arus keluar bersih investor asing mencapai Rp 7,7 triliun, dengan tekanan terbesar berasal dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 8,2 triliun dan SRBI senilai Rp 2,6 triliun. Dampaknya, porsi kepemilikan asing di SBN turun ke level terendah sepanjang sejarah, sekitar 13,4%, yang membuat rupiah semakin sensitif terhadap guncangan eksternal.

Baca Juga: Anomali Pasar Keuangan: Rupiah Terjun, IHSG Justru Cetak Rekor Tertinggi

Di tengah kondisi tersebut, BI dinilai semakin mengandalkan bauran kebijakan (policy mix) untuk menjaga stabilitas. Operasi pasar terbuka (OMO) menunjukkan efektivitas kian terlihat, tercermin dari lelang SRBI terbaru yang dibatasi hanya Rp 7 triliun, dengan imbal hasil turun ke kisaran 4,6%–4,7%.

Langkah ini diperkuat oleh kebijakan penurunan remunerasi giro berlebih menjadi 3,50%, atau 25 basis poin di bawah suku bunga Deposit Facility. Kebijakan tersebut bertujuan menekan penumpukan likuiditas di perbankan sekaligus mendorong penyaluran kredit ke sektor riil.

Secara keseluruhan, bauran kebijakan ini menandai pergeseran terukur menuju efisiensi likuiditas dan stabilitas nilai tukar. "Dengan sikap yang tetap hati-hati namun kurang dovish dibanding tahun lalu, sejalan dengan fokus BI menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global," tandasnya. 

Selanjutnya: Waspada Tingkat Tinggi! Hujan dan Cuaca Ekstrem di Provinsi Ini Jelang Akhir Januari

Menarik Dibaca: Waspada Tingkat Tinggi! Hujan dan Cuaca Ekstrem di Provinsi Ini Jelang Akhir Januari

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×