kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.628.000   -10.000   -0,38%
  • USD/IDR 17.855   89,00   0,50%
  • IDX 6.385   -56,43   -0,88%
  • KOMPAS100 835   -7,46   -0,89%
  • LQ45 634   -5,96   -0,93%
  • ISSI 222   -3,01   -1,34%
  • IDX30 353   -3,37   -0,95%
  • IDXHIDIV20 440   -4,01   -0,90%
  • IDX80 95   -0,92   -0,95%
  • IDXV30 121   -0,86   -0,71%
  • IDXQ30 114   -1,28   -1,12%

Rupiah Melemah 8 Hari Beruntun ke Rp 17.847 Senin (21/9), Tunggu Sinyal Suku Bunga BI


Senin, 21 September 2026 / 15:23 WIB
Rupiah Melemah 8 Hari Beruntun ke Rp 17.847 Senin (21/9), Tunggu Sinyal Suku Bunga BI
ILUSTRASI. Teller menghitung uang di Bank Mandiri, Jakarta (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berlanjut pada awal pekan, Senin (21/9/2026).

Rupiah di pasar spot melemah di tengah penguatan imbal hasil obligasi global dan ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama.

Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 17.847 per dolar AS, melemah 0,50% dibandingkan posisi akhir pekan lalu di Rp 17.758 per dolar AS.

Dengan pergerakan tersebut, rupiah telah melemah selama delapan hari perdagangan berturut-turut.

Baca Juga: Harga Minyak Turun, Pasokan Saudi Pulih dan Diplomasi Mulai Redakan Tensi

Pelemahan juga tercatat pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI). Rupiah Jisdor turun 0,38% ke level Rp 17.813 per dolar AS pada Senin.

Meski telah menguat lebih dari 2% dari level terendah sepanjang masa yang dicapai pada Juni 2026, rupiah masih menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terlemah di kawasan Asia sepanjang tahun ini.

Pergerakan rupiah selanjutnya akan sangat dipengaruhi arah kebijakan moneter BI. Investor kini menunggu keputusan dan pandangan BI mengenai suku bunga, terutama di tengah kebutuhan menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.

Pergantian kepemimpinan BI juga menjadi perhatian pasar. Pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI pada Juli lalu sempat meningkatkan kekhawatiran investor.

Namun, penunjukan Destry Damayanti sebagai gubernur BI membantu meredakan kekhawatiran pasar dan mendukung pemulihan rupiah.

Baca Juga: Proses RKAB 3 Anak Usaha Disetujui, Saham Bayan (BYAN) Merosot 5,06%

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, rupiah masih menghadapi tekanan karena pelaku pasar memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga kebijakan pada pekan ini.

"Rupiah menjadi pengecualian, tetap berada di bawah tekanan karena para pedagang memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga kebijakannya tidak berubah pekan ini," kata Leong dilansir dari Reuters.

Menurut dia, kondisi tersebut terjadi ketika imbal hasil obligasi global meningkat dan pasar memperkirakan bank sentral utama akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini membatasi daya tarik aset rupiah.

Di pasar global, indeks dolar AS relatif stabil pada Senin setelah menguat lebih dari 1% sepanjang pekan lalu.

Baca Juga: OJK Rilis Aturan Terkait Pemegang Saham Bursa

Penguatan dolar terjadi setelah Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga dan memberikan sinyal kemungkinan kenaikan lanjutan.

Kondisi tersebut membuat ruang penguatan rupiah masih terbatas, terutama jika selisih imbal hasil aset Indonesia dan AS belum cukup menarik untuk mendorong arus modal masuk.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×