kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   -50.000   -1,77%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Rupiah Kembali Melemah, Level Rp 17.000 Terbuka Lebar, Ini Catatan Analis


Kamis, 15 Januari 2026 / 12:50 WIB
Diperbarui Kamis, 15 Januari 2026 / 13:02 WIB
Rupiah Kembali Melemah, Level Rp 17.000 Terbuka Lebar, Ini Catatan Analis
ILUSTRASI. Rupiah kembali melemah ke Rp 16.879 per dolar AS di tengah hari ini. Tekanan ini dipicu defisit anggaran dan level kritis Rp 17.000 kian dekat


Reporter: Rashif Usman | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mengutip Bloomberg Kamis (15/1/2026) pukul 12.16 WIB, rupiah di pasar spot melemah 0,08% ke Rp 16.879 per dolar AS.

Sebelumnya, pada Rabu (14/1) rupiah di pasar spot menguat ke level Rp 16.865 per dolar AS. 

Analis menilai tekanan terhadap rupiah masih cukup besar. Pelemahan hingga menembus kisaran Rp 16.900 bahkan Rp 17.000 per dolar AS dinilai masih terbuka lebar.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, pergerakan dolar Amerika Serikat yang masih kuat menjadi salah satu faktor utama yang membebani pergerakan rupiah. Selain itu, sentimen domestik turut memberikan tekanan, terutama kekhawatiran defisit anggaran yang berpotensi melewati batas 3% serta prospek pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI).

Baca Juga: Rupiah Berbalik Melemah ke Rp 16.880 per Dolar AS di Tengah Hari Ini (15/1)

"Pelemahan rupiah cukup terbuka lebar. Bank Indonesia (BI) akan terus mengintervensi membatasi perlemahan dan volatilitas," kata  Lukman kepada Kontan, Kamis (15/1/2026).

Di sisi lain, Lukman menilai pelemahan dolar AS secara signifikan dapat memberikan ruang penguatan bagi rupiah. Namun, faktor tersebut dinilai belum cukup kuat tanpa dukungan dari perbaikan fundamental domestik.

"Perlu ada kemajuan data-data ekonomi domestik yang mungkin bisa mempengaruhi kebijakan BI dan pemerintah," terang Lukman. 

Ia menambahkan, apabila kondisi ekonomi domestik menunjukkan perbaikan, pemerintah memiliki ruang untuk menghentikan kebijakan fiskal yang longgar serta menjaga defisit anggaran tetap berada di bawah 3%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×