kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.675.000   10.000   0,38%
  • USD/IDR 16.910   28,00   0,17%
  • IDX 9.075   42,82   0,47%
  • KOMPAS100 1.256   8,05   0,64%
  • LQ45 889   7,35   0,83%
  • ISSI 330   0,23   0,07%
  • IDX30 452   3,62   0,81%
  • IDXHIDIV20 533   4,12   0,78%
  • IDX80 140   0,85   0,61%
  • IDXV30 147   0,15   0,10%
  • IDXQ30 145   1,19   0,83%

Rupiah Kembali Melemah, Level Rp 17.000 Terbuka Lebar, Ini Catatan Analis


Kamis, 15 Januari 2026 / 12:50 WIB
Diperbarui Kamis, 15 Januari 2026 / 13:02 WIB
Rupiah Kembali Melemah, Level Rp 17.000 Terbuka Lebar, Ini Catatan Analis
ILUSTRASI. Rupiah kembali melemah ke Rp 16.879 per dolar AS di tengah hari ini. Tekanan ini dipicu defisit anggaran dan level kritis Rp 17.000 kian dekat


Reporter: Rashif Usman | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mengutip Bloomberg Kamis (15/1/2026) pukul 12.16 WIB, rupiah di pasar spot melemah 0,08% ke Rp 16.879 per dolar AS.

Sebelumnya, pada Rabu (14/1) rupiah di pasar spot menguat ke level Rp 16.865 per dolar AS. 

Analis menilai tekanan terhadap rupiah masih cukup besar. Pelemahan hingga menembus kisaran Rp 16.900 bahkan Rp 17.000 per dolar AS dinilai masih terbuka lebar.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, pergerakan dolar Amerika Serikat yang masih kuat menjadi salah satu faktor utama yang membebani pergerakan rupiah. Selain itu, sentimen domestik turut memberikan tekanan, terutama kekhawatiran defisit anggaran yang berpotensi melewati batas 3% serta prospek pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI).

Baca Juga: Rupiah Berbalik Melemah ke Rp 16.880 per Dolar AS di Tengah Hari Ini (15/1)

"Pelemahan rupiah cukup terbuka lebar. Bank Indonesia (BI) akan terus mengintervensi membatasi perlemahan dan volatilitas," kata  Lukman kepada Kontan, Kamis (15/1/2026).

Di sisi lain, Lukman menilai pelemahan dolar AS secara signifikan dapat memberikan ruang penguatan bagi rupiah. Namun, faktor tersebut dinilai belum cukup kuat tanpa dukungan dari perbaikan fundamental domestik.

"Perlu ada kemajuan data-data ekonomi domestik yang mungkin bisa mempengaruhi kebijakan BI dan pemerintah," terang Lukman. 

Ia menambahkan, apabila kondisi ekonomi domestik menunjukkan perbaikan, pemerintah memiliki ruang untuk menghentikan kebijakan fiskal yang longgar serta menjaga defisit anggaran tetap berada di bawah 3%.

Selanjutnya: RKAB 2026 Disetujui, Vale (INCO) Pastikan Operasi dan Investasi Berlanjut

Menarik Dibaca: Promo Indomaret Super Hemat Terbaru sampai 21 Januari 2026, Sunlight Hemat Banyak!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

[X]
×