Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah berpeluang melanjutkan penguatan pada pekan depan, meski masih dibayangi sejumlah sentimen global dan domestik. Pelemahan imbal hasil US Treasury menjadi salah satu katalis yang menopang pergerakan rupiah.
Melansir Bloomberg pada Jumat (21/8), kurs rupiah di pasar spot menguat 0,3% secara harian menjadi Rp 17.694 per dolar Amerika Serikat (AS). Dalam sepekan, kurs rupiah spot menguat 0,75% dari posisi Rp 17.827 per dolar AS.
Sejalan, kurs rupiah Jisdor hari ini menguat atau 0,42% dalam sehari menjadi Rp 17.705 per dolar AS. Dalam sepekan, kurs rupiah Jisdor menguat 0,73% dari Rp 17.836 per dolar AS.
Baca Juga: Pefindo Angkat Direksi Baru, Ini Susunan Direksinya
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan salah satu sentimen utama yang memengaruhi pergerakan rupiah dalam sepekan terakhir berasal dari kebijakan Departemen Keuangan AS yang meningkatkan program pembelian kembali (buyback) surat utang pemerintah AS atau US Treasury.
Departemen Keuangan AS berencana melipat gandakan pembelian kembali Treasury berjangka panjang menjadi sedikitnya US$ 4 miliar per operasi selama kuartal mendatang. Kebijakan tersebut dinilai membantu menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor panjang.
“Dan pemerintah dapat meningkatkan pembelian tersebut lebih lanjut dan berpendapat bahwa tingkat imbal hasil saat ini tidak mencerminkan fundamental ekonomi yang sebenarnya,” ujar Ibrahim, Jumat (21/8/2026).
Di sisi lain, perkembangan pasar tenaga kerja AS juga menjadi perhatian. Klaim tunjangan pengangguran mingguan tercatat menurun, menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja masih relatif stabil meskipun sebelumnya terjadi penurunan jumlah lapangan kerja yang tidak terduga pada Juli.
Kondisi tersebut membuat The Fed masih perlu menjaga fokus terhadap pengendalian inflasi. Sementara itu, pasar masih memperdebatkan waktu pelaksanaan perubahan kebijakan suku bunga berikutnya.
Dari sisi geopolitik, Ibrahim mengatakan ketegangan terkait Iran masih menjadi perhatian pasar. Kesepakatan damai sebelumnya berakhir pada pekan ini tanpa adanya upaya dari kedua pihak untuk kembali memulai perundingan.
Dari dalam negeri, salah satu perhatian pasar berasal dari pelebaran defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD).
Bank Indonesia (BI) melaporkan defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) sebesar US$ 12,5 miliar pada kuartal II-2026 atau 3,3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Transaksi berjalan mencatat defisit yang lebih tinggi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang diprakirakan temporer. Pada kuartal sebelumnya defisit transaksi berjalan hanya sebesar US$ 3,6 miliar atau 1,0% dari PDB.
Menurut Ibrahim, pelebaran CAD tersebut antara lain dipengaruhi oleh meningkatnya defisit neraca perdagangan migas seiring kenaikan impor minyak di tengah tingginya harga minyak dunia.
“Surplus neraca perdagangan nonmigas juga tercatat lebih rendah dipengaruhi oleh peningkatan impor nonmigas untuk kebutuhan kegiatan ekonomi dalam negeri yang masih tinggi,” jelasnya.
Selain itu, pasar juga perlu mewaspadai risiko inflasi pangan akibat fenomena El Nino. Kekeringan berkepanjangan berpotensi menekan produksi pertanian dan mengurangi pasokan beras maupun komoditas pangan lainnya. Kondisi tersebut dapat mendorong kenaikan harga pangan, menekan daya beli masyarakat.
Dengan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah pada pekan depan akan bergerak dalam kisaran Rp 17.600-Rp 17.900 per dolar AS.
Baca Juga: Bach Multi Global (BACH) Komitmen Jaga Kinerja Hingga 2030, Begini Strateginya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














