kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.325.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Rupiah diprediksi masih menguji level Rp 15.000 per dolar AS pada pekan ini


Senin, 21 September 2020 / 05:10 WIB
Rupiah diprediksi masih menguji level Rp 15.000 per dolar AS pada pekan ini


Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan rupiah dalam sepekan ke depan diprediksi masih menguji level resistance Rp 15.000 per dolar AS. Dengan catatan, sentimen domestik masih mendominasi pergerakan mata uang garuda ke depan. 

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Jumat (18/9) rupiah berhasil ditutup menguat 0,67% ke level Rp 14.375 per dolar AS dan menguat 1,04% dalam sepekan. 

Sedangkan data kurs tengan Bank Indonesia (JISDOR) mencatatkan penguatan rupiah 0,74% ke level Rp 14.768 per dollar AS di Jumat (18/9) atau menguat 1,41% dalam sepekan. 

Research & Development ICDX Nikolas Prasetia menilai, rupiah masih akan menguji level Rp 15.000 per dolar AS di pekan depan, setelah beberapa kali gagal menyentuhnya pada pekan lalu. Di sisi lai, keputusan Rapat Dewan Gubernur BI untuk menahan suku bunga acuannya di level 4% berhasil menopang penguatan rupiah akhir pekan lalu. 

Baca Juga: Butuh Vaksin agar Rupiah Tak Menyundul ke Atas Level 15.000

Selain itu, BI juga memutuskan perpanjangan masa pelonggaran giro wajib minimum (GWM) bagi bank yang menyalurkan kredit UMKM dan kredit untuk sektor prioritas hingga 30 Juni 2021. 

"Pengumuman tersebut berdampak pada baiknya iklim investasi domestik, karena selain suku bunga yang lebih menarik, sektor industri juga sedikit mendapat dukungan dari BI, ini membuat Rupiah menguat di akhir pekan kemarin," ungkap Niko kepada Kontan.co.id, Minggu (20/9).

Untuk pekan depan, Niko menilai pasar masih akan menyerap sentimen keputusan BI, paling tidak hingga pertemuan RDG selanjutnya bulan depan. 

Meskipun begitu, isu Covid-19 juga masih menjadi perhatian, seiring pertambahan kasus di Indonesia yang sempat tembus 4.000 kasus dalam sehari pada Sabtu (19/9). 

Menurut Niko, pertambahan kasus tersebut perlu diwaspadai lantaran dapat mengganggu jalannya ekonomi. Bahkan, Niko memandang bukan tidak mungkin jika kenaikan kasus semakin menggila dan mengganggu ekonomi, BI dapat merubah arah kebijakannya menjadi lebih suportif.

Sehingga, Niko menilai tren pergerakan rupiah sepekan ke depan masih didominasi oleh sentimen domestik. Sedangkan sentimen dari global, yakni menanti pernyataan Gubernur Bank Sentral AS (The Fed) Jerome Powell yang diprediksi masih akan mempertahankan kebijakannya.

"Level Rp 15.000 per dolar AS masih terlihat menjadi level sakral, dengan support jangka pendek yang perlu diperhatikan Rp 14.500 per dolar AS," tandasnya.

Selanjutnya: Investasi Valas Jadi Harapan Penghasil Cuan di 2020, Simak Strateginya!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×