Reporter: Vivit Dewi | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah agenda bank sentral akan menjadi perhatian pelaku pasar valuta asing (valas) dalam mencermati pergerakan mata uang berbasis komoditas atau commodity currencies pada kuartal IV-2026. Keputusan suku bunga di Australia, Selandia Baru, dan Kanada berpotensi memengaruhi pergerakan dolar masing-masing negara terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (13/10/2026) pukul 16.35 WIB, indeks dolar AS (DXY) berada di level 102,33, melemah 0,25% secara harian, tetapi menguat 0,46% dalam sepekan dan naik 2,92% secara bulanan.
Sementara itu, pasangan AUD/USD berada di level 0,697, melemah 0,17% secara harian, tetapi menguat 0,13% dalam sepekan dan naik 2,33% secara bulanan. Pairing NZD/USD tercatat di level 0,560, terkoreksi 0,30% secara harian, tetapi menguat 0,31% secara mingguan dan naik 2,98% dalam sebulan. Adapun pasangan USD/CAD berada di level 1,426, menguat 0,15% secara harian, melemah 0,36% dalam sepekan, tetapi naik 2,56% secara bulanan.
Baca Juga: Anak Usaha Alamtri Minerals (ADMR) Rilis Obligasi Rp 2 Triliun, Beri Bunga 8%–8,75%
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo menyebut, peluang penguatan mata uang komoditas hingga akhir tahun akan berbeda-beda, bergantung pada perkembangan ekonomi dan kebijakan moneter masing-masing negara.
“Menurut saya, skenario dasarnya adalah AUD relatif lebih kuat selama RBA tetap lebih hawkish, NZD sangat bergantung pada keputusan 28 Oktober, dan CAD bergantung pada inflasi serta arah dolar AS,” ujar Sutopo kepada Kontan, Selasa (13/10/2026).
Adapun prospek dolar Selandia Baru akan dipengaruhi keputusan Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) pada 28 Oktober 2026. Pasar masih memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga, yang dapat meningkatkan daya tarik NZD. Namun, keputusan tersebut belum tentu langsung mendorong penguatan berkelanjutan apabila dolar AS masih diminati investor di tengah ketidakpastian global.
Di sisi lain, dolar Kanada menghadapi tantangan dari kondisi pasar tenaga kerja dan ekspektasi kebijakan Bank of Canada (BoC). Pelemahan pasar tenaga kerja dapat membatasi ruang kenaikan suku bunga, sehingga mengurangi daya tarik CAD dibandingkan mata uang dengan prospek imbal hasil lebih tinggi.
Menurut Sutopo, kenaikan harga minyak belum tentu cukup untuk mengangkat dolar Kanada apabila tekanan dari faktor domestik dan perbedaan suku bunga masih dominan. Perkembangan inflasi Kanada serta keputusan BoC pada 28 Oktober akan menjadi perhatian pasar untuk melihat arah CAD selanjutnya.
Dari sisi proyeksi, Sutopo mengutip perkiraan RBC yang diterbitkan pada Agustus, dengan target AUD/USD di level 0,71, NZD/USD di level 0,58, dan USD/CAD di level 1,45 pada kuartal IV 2026. Namun, ia mengingatkan bahwa proyeksi tersebut perlu dicermati kembali, terutama untuk NZD yang telah bergerak di bawah asumsi RBC.
Baca Juga: Dolar Kanada Tertekan, Harga Minyak Tinggi Belum Ampuh Menopang Pergerakan CAD
Sutopo juga menyoroti perbedaan proyeksi antarlembaga keuangan terhadap dolar Kanada. Rata-rata proyeksi lima bank menempatkan USD/CAD mendekati 1,40 pada akhir 2026, yang mengindikasikan peluang pemulihan CAD. Dengan demikian, pelemahan dolar Kanada tidak serta-merta akan berlanjut hingga akhir tahun.
“Proyeksi bank berbeda-beda. Jadi, pandangan bahwa CAD pasti tertekan tidak disepakati semua analis,” jelasnya.
Ke depan, investor perlu mencermati keputusan RBNZ dan BoC pada 28 Oktober, dilanjutkan keputusan RBA pada 3 November 2026.
Selain itu, data inflasi Amerika Serikat dan Kanada serta perkembangan geopolitik juga dapat memengaruhi arah dolar AS dan menentukan ruang penguatan mata uang komoditas hingga akhir tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














