Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan rupiah masih menjadi perhatian pelaku pasar setelah mengalami tekanan cukup dalam. Namun, sejumlah sentimen positif dinilai mulai muncul dan berpotensi menopang penguatan mata uang Garuda ke depan.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong mengungkapkan, keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi sinyal kuat bagi pasar.
“Kenaikan ini menjadi sinyal positif bahwa stabilitas makroekonomi mulai menjadi fokus utama pemerintah dan otoritas moneter. Bahkan langkah ini cukup mengejutkan karena lebih agresif dari ekspektasi pasar yang sebelumnya hanya memperkirakan kenaikan 25 basis poin,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (20/5/2026).
Baca Juga: MedcoEnergi Genjot Produksi Migas 18% demi Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Asal tahu saja, pada akhir perdagangan Rabu (20/5/2026), rupiah ditutup di level Rp 17.654 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat 0,29% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.706 per dolar AS.
Selain kebijakan moneter, sentimen juga datang dari arah kebijakan fiskal pemerintah. Pidato Presiden Prabowo Subianto dinilai memberikan sinyal kehati-hatian dalam pengelolaan anggaran.
“Investor menangkap nada yang lebih hati-hati terhadap fiskal, terutama melalui target defisit yang lebih rendah serta penekanan pada efisiensi anggaran,” jelas Lukman.
Baca Juga: Kinerja Surya Semesta (SSIA) Masih Prospektif, Subang Smartpolitan & BYD Jadi Katalis
Ia menambahkan, langkah pengurangan alokasi belanja tertentu juga dipersepsikan positif oleh pasar karena meredakan kekhawatiran terhadap pembengkakan fiskal.
Dengan kombinasi kebijakan tersebut, rupiah memiliki peluang untuk kembali menguat, meskipun masih dibayangi berbagai faktor eksternal.
“Saya berharap masih ada beberapa kenaikan suku bunga ke depan dan komitmen pemerintah terhadap disiplin anggaran. Ini bisa membawa rupiah menguat,” katanya.
Di tengah dinamika global seperti geopolitik, pergerakan dolar AS, hingga harga minyak mentah, Lukman memperkirakan rupiah berpotensi bertahan di bawah level Rp 18.000 per dolar AS dalam jangka menengah.
Meski demikian, ia menilai sulit untuk menentukan level fundamental nilai tukar rupiah secara pasti karena banyaknya variabel yang memengaruhi.
“Sulit menilai level ideal suatu mata uang karena dipengaruhi banyak faktor, mulai dari suku bunga, pertumbuhan ekonomi, investasi asing, inflasi, hingga faktor eksternal seperti geopolitik dan harga komoditas,” tutup Lukman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













