Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Jumat (16/10/2026) menjadi pukulan besar bagi pasar modal Indonesia.
Usulan penurunan status pasar modal Indonesia menjadi sinyal bahwa pembenahan pasar saham domestik belum cukup meyakinkan investor global.
Asal tahu saja, MSCI mengusulkan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Usulan tersebut berdasarkan hasil penilaian MSCI terhadap transparansi dan tata kelola pasar saham Indonesia, yang belum menunjukkan perbaikan memadai sejak Februari 2026.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Kembali ke Level 6.000 pada Akhir Tahun 2026, Cermati Pemicunya
Tamparan tersebut tak hanya berdampak pada pasar saham domestik saja. Nyatanya, rupiah pun ambruk cukup signifikan.
Rupiah melemah tajam pada perdagangan Jumat (16/10) menjadi Rp 18.027 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah atau 0,50% secara harian. Dalam sepekan, kurs rupiah spot melemah 0,71%.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Dipo Satria Ramli, mengatakan sentimen tersebut menjadi tekanan yang cukup berat bagi pasar keuangan domestik.
“Banyak pelaku pasar cukup kaget mengenai isu ini. Banyak yang hanya berekspektasi, ‘Oh, kita dikasih warning aja,’ dan nggak diancam sampai level ini. Perlu diketahui juga, level standalone ini salah satu (klasifikasi) yang paling bawah,” ujar Dipo kepada Kontan, Jumat (16/10/2026).
Memang, banyak investor institusi memiliki mandat investasi yang membatasi penempatan dana hanya pada negara dengan status emerging market.
Apabila status Indonesia turun menjadi standalone market, investor dengan mandat tersebut otomatis harus keluar dari pasar domestik.
Baca Juga: IPAC Siapkan Go Private, Tawarkan Buyback Saham Publik Rp 250 per Saham
“Untuk dampak ke rupiah sendiri, menurut saya ini cukup berat. Karena terutama bagi banyak investor institusi, MSCI ini sebenarnya patokan yang sangat menjadi acuan,” imbuh Dipo.
Tentunya risiko ini yang jadi kekhawatiran, kondisi tersebut membuka potensi arus keluar modal (capital ourflow) cukup besar.
Jika tekanan tersebut berlanjut, rupiah berpotensi kembali tertekan, meskipun besaran pelemahannya masih bergantung pada perkembangan sentimen dan respons pemerintah.
Dipo bilang, persoalan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan intervensi Bank Indonesia (BI).
bank sentral telah menjalankan operasi moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar, langkah tersebut perlu diiringi pembenahan yang mampu memulihkan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 18.000 Imbas Rencana MSCI Downgrade Status Indonesia
Untuk diketahui, MSCI sebelumnya menyoroti masalah kelayakan investasi di pasar saham Indonesia dalam evaluasi klasifikasi pasar pada Juni 2026.
Sejumlah persoalan yang disorot mencakup struktur kepemilikan saham yang tidak transparan hingga dugaan praktik perdagangan terkoordinasi.
MSCI mengakui bahwa otoritas pasar modal Indonesia telah mengumumkan sejumlah upaya reformasi. Namun, investor institusi, kata MSCI, menilai penerapannya harus konsisten dan menunjukkan dampak nyata secara berkelanjutan.
Dipo juga sebenarnya mengapresiasi reformasi pasar modal yang dilakukan. Namun menurut dia, pembenahan tersebut belum menjawab seluruh persoalan mendasar yang menjadi perhatian investor.
“Apa yang menjadi isu utama dari pasar itu sendiri adalah masalah likuiditas, harga saham yang bisa digoreng-goreng, dan beberapa hal lain yang masih menjadi concern.
Baca Juga: Pasar Saham Kacau Balau, Investor Ritel Harus Apa?
Jadi, walaupun sekarang sudah transparan dan terbuka, masalah likuiditas dan harga saham yang masih bisa dimanipulasi itu tetap menjadi masalah,” jelas Dipo.
Di tengah ketidakpastian tersebut, Dipo mengatakan arah pergerakan rupiah masih sulit dipastikan karena bergantung pada berbagai faktor, terutama respons pemerintah terhadap ancaman penurunan status pasar Indonesia dan potensi arus keluar modal asing.
Tapi yang jelas, ke depan rupiah dibidiknya masih akan berlanjut menghadapi tantangan dan sulit kembali menguat.
“Pada akhir tahun lalu, rupiah berada di level Rp 16.600 per dolar AS. Saya rasa, untuk kembali ke level per Desember akhir 2025 itu, hingga akhir tahun ini akan sangat-sangat sulit,” pungkas Dipo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














