kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.913   43,00   0,24%
  • IDX 5.643   -177,60   -3,05%
  • KOMPAS100 728   -24,24   -3,22%
  • LQ45 553   -19,90   -3,47%
  • ISSI 197   -4,65   -2,31%
  • IDX30 314   -10,96   -3,37%
  • IDXHIDIV20 389   -11,74   -2,93%
  • IDX80 83   -2,75   -3,22%
  • IDXV30 107   -1,77   -1,63%
  • IDXQ30 102   -3,08   -2,93%

Risiko MTN gagal bayar meningkat sejak pandemi


Kamis, 20 Agustus 2020 / 20:32 WIB
ILUSTRASI. Petugas memperhatikan pergerakan harga surat berharga pada layar digital di Jakarta. KONTAN/Cheppy A. Muchlis


Reporter: Danielisa Putriadita | Editor: Noverius Laoli

"Investor perlu menyadari risiko MTN itu lebih tinggi dari obligasi, MTN juga tidak ada jaminannya, dan tidak harus memiliki rating," kata Wawan. Namun, memang disatu sisi imbal hasil yang ditawarkan MTN biasanya lebih tinggi dari obligasi.

Lantas, dengan tingginya imbal hasil yang ditawarkan tentu merefleksikan pada risiko yang juga lebih tinggi. Dengan begitu, Wawan kembali menegaskan investor perlu menelaah laporan keuangan serta bisnis perusahaan tersebut.

Baca Juga: Mengatur Portofolio Investasi Asuransi agar Nasabah Tak Merugi

"Pengecekan sebelum membeli MTN harus dua kali cek arus kas keuangan mereka, lokasi bisnis, penjualannya ke depan ada atau tidak, jangan hanya memandang sektor bisnisnya saja," kata Wawan.

Fikri menambahkan, investor juga harus mengerti seperti apa prospek bisnis perusahaan penerbit MTN ke depannya. "Hati-hati melihat perkembangan bisnis perusahaan dan segala kemungkinan yang datang di sektor bisnis tersebut di kemudian hari," kata Fikri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×