kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   -50.000   -1,77%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Risiko MTN gagal bayar meningkat sejak pandemi


Kamis, 20 Agustus 2020 / 20:32 WIB
ILUSTRASI. Petugas memperhatikan pergerakan harga surat berharga pada layar digital di Jakarta. KONTAN/Cheppy A. Muchlis


Reporter: Danielisa Putriadita | Editor: Noverius Laoli

"Investor perlu menyadari risiko MTN itu lebih tinggi dari obligasi, MTN juga tidak ada jaminannya, dan tidak harus memiliki rating," kata Wawan. Namun, memang disatu sisi imbal hasil yang ditawarkan MTN biasanya lebih tinggi dari obligasi.

Lantas, dengan tingginya imbal hasil yang ditawarkan tentu merefleksikan pada risiko yang juga lebih tinggi. Dengan begitu, Wawan kembali menegaskan investor perlu menelaah laporan keuangan serta bisnis perusahaan tersebut.

Baca Juga: Mengatur Portofolio Investasi Asuransi agar Nasabah Tak Merugi

"Pengecekan sebelum membeli MTN harus dua kali cek arus kas keuangan mereka, lokasi bisnis, penjualannya ke depan ada atau tidak, jangan hanya memandang sektor bisnisnya saja," kata Wawan.

Fikri menambahkan, investor juga harus mengerti seperti apa prospek bisnis perusahaan penerbit MTN ke depannya. "Hati-hati melihat perkembangan bisnis perusahaan dan segala kemungkinan yang datang di sektor bisnis tersebut di kemudian hari," kata Fikri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×