Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) masih memasang mode ekspansi. Aksi terbaru anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) ini adalah menandatangani perjanjian definitif dengan mitra strategis untuk pembangunan pabrik pengolahan High-Pressure Acid Leach (HPAL).
Meski masih memasang mode ekspensi di bisnis nikel, tapi laju saham MBMA masih tertatih-tatih. Harga MBMA melemah 4,84% ke posisi Rp 354 per saham pada Selasa (25/2). Harga saham MBMA telah mengakumulasi penurunan 22,71% secara year to date.
Research Analyst Phintraco Sekuritas Lisya Anxellin menyoroti tantangan dari harga nikel global yang saat ini tertekan akibat surplus pasokan. Meski begitu, kinerja MBMA berpeluang stabil dan mampu mencapai pertumbuhan di masa depan.
Baca Juga: Pendapatan Tertekan, ESSA GenjotLaba dengan Efisiensi
Prospek kinerja MBMA ditopang oleh strategi vertikal integrasi, yang mengolah bijih nikel menjadi bahan baku utama untuk baterai kendaraan listrik. "Untuk mewujudkan target tersebut, MBMA terus melaksanakan berbagai proyek ekspansi guna meningkatkan kapasitas produksinya," kata Lisya.
Lisya memperkirakan MBMA memiliki potensi fair value pada level harga Rp 424, yang menunjukkan potential upside 19,77% dari posisi harga saat ini. Hanya saja, untuk saat ini Lisya menyarankan wait and see terlebih dulu pada saham MBMA dengan mencermati support Rp 346 - Rp 350 dan resistance di Rp 370.
Investment Analyst Edvisor Profina Visindo Indy Naila turut memandang proyek-proyek ekspansi MBMA berpotensi menumbuhkan kinerja operasional dan profitabilitas MBMA secara jangka panjang.
"Tetapi, memang harga komoditas yang bergerak volatile terutama nikel yang ikut tertekan bisa menekan margin operasional dan profitabilitas," ujar Indy.
Indy juga menyarankan wait and see pada saham MBMA sambil mencermati perkembangan harga nikel. Sebagai pertimbangan jangka pendek, pelaku pasar bisa mencermati support di Rp 350 dan resistance di Rp 400 - Rp 450.
Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia Fath Aliansyah Budiman menambahkan, pergerakan harga nikel dunia bisa berimbas terhadap kinerja, serta menjadi salah satu faktor penentu dari sisi minat pasar. Dari sisi pergerakan saham, Fath melihat MBMA masih berada di jalur downtrend.
Baca Juga: Kabar Royalti Nikel Naik Jadi 15%, Laba ANTM, INCO, Hingga MBMA bisa Tergerus Lumayan
"Pelaku pasar disarankan menunggu sampai dengan terjadinya reversal sebelum melakukan pembelian atau menambah posisi yang sudah ada sebelumnya," tandas Fath.
Sementara itu, Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan dalam riset 15 Januari 2025 memandang target MBMA untuk mencapai penjualan saprolit dan limonit yang lebih tinggi pada tahun ini bisa mengangkat kontribusi EBITDA dari SCM.
Selain itu, penjualan saprolit yang lebih tinggi akan menghasilkan efisiensi biaya di pabrik peleburan Nickel Pig Iron (NPI).
Ryan dan Reggie pun memperkirakan tambahan penjualan saprolit pada tahun ini akan mengurangi ketergantungan dari pihak ketiga sekitar 15%-20%. Langkah ini diperkirakan setara dengan penghematan biata tunai NPI sebesar US$ 250 per ton.
Ryan dan Reggie pun masih menyematkan rekomendasi buy pada saham MBMA. Tetapi, target harga MBMA dipangkas dari semula Rp 635 menjadi Rp 560 per saham.
Baca Juga: Simak Strategi Ekspansi Merdeka Battery (MBMA) dan Rekomendasi Sahamnya
Strategi Ekspansi MBMA
Head of Corporate Communications Merdeka Battery Materials Tom Malik mengungkapkan pada tahun 2025 MBMA fokus mengerjakan proyek HPAL yang akan dibangun dan dioperasikan oleh PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC). Selain itu, MBMA juga fokus mengejar penyelesaian pabrik Acid, Iron, Metals (AIM).
Tom bilang, MBMA berupaya menjaga kinerja positif di tengah outlook pasar dan harga nikel yang masih menantang pada tahun ini. Tom mengatakan bahwa MBMA merupakan salah satu dari sedikit perusahaan yang beroperasi dari hulu tambang hingga ke hilir.
MBMA menggarap tambang nikel melalui SCM. Sedangkan proses hilir diolah oleh tiga fasilitas Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF), satu nickel matte dan dua HPAL. "Sehingga pendapatan MBMA berasal dari penjualan bijih nikel dan penambahan nilai dari proses hilirisasi," ungkap Tom kepada Kontan.co.id, Selasa (25/2).
Baca Juga: Prospek Kinerja Masih Menantang, Cermati Rekomendasi Saham Nikel Pilihan Analis
Sekadar mengingatkan, pada tahun lalu tambang SCM mengerek produksi bijih lebih dari dua kali lipat dengan produksi saprolit sebesar 4,9 juta wet metric ton (wmt). Sedangkan produksi limonit mencapai 10,1 juta wmt.
Selain itu, MBMA memproduksi sebanyak 82.161 ton nikel dalam Nickel Pig Iron (NPI). MBMA juga menghasilkan 50.315 ton high-grade nickel matte (HGNM).
Pada tahun ini, MBMA bakal memacu tingkat produksi dan penjualan nikel. Anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) ini menargetkan pengiriman 6 juta - 7 juta wmt bijih saprolit dan penjualan 12,5 juta - 15 juta wmt bijih limonit.
MBMA memproyeksikan produksi NPI bisa mencapai 80.000 ton - 87.000 ton, serta membidik produksi HGNM sekitar 50.000 ton - 55.000 ton. Selain itu, MBMA siap mendulang sumber pendapatan baru dari fasilitas HPAL sebanyak 25.000 ton - 30.000 ton MHP.
"MBMA juga menjaga margin dengan mengontrrol biaya produksi melalui efisiensi dan innovasi sehingga menjadi profitabilitas," ungkap Tom.