Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli
Pembagian Dividen Kuartal II-2026
Elandry juga menambahkan pembagian dividen di kuartal II-2026 berpotensi lebih aktif dibanding awal tahun, tetapi tetap bersifat selektif.
Aktivitas pasar biasanya meningkat karena musim dividen, rotasi portofolio institusi, dan stabilisasi posisi investor setelah kuartal I, sehingga IHSG cenderung lebih hidup namun tidak merata di semua sektor.
Di tengah kondisi tersebut, MSCI tanggal 12 Mei 2026 menjadi katalis utama yang bisa menentukan arah jangka pendek market.
Sebelum pengumuman, pasar biasanya bergerak hati-hati dengan volatilitas meningkat karena spekulasi. Setelah keputusan keluar, arus dana asing akan lebih jelas.
Angka positif, berpotensi mendorong inflow ke saham besar. Jika tidak sesuai ekspektasi, pasar cenderung lebih defensif dan selektif.
"Dengan demikian, kuartal II-2026 bukan sekadar semarak atau tidak, tetapi fase penentuan arah aliran dana global ke Indonesia, di mana MSCI menjadi pemicu utamanya," ucap Elandry.
Baca Juga: Kinerja Reksadana April 2026 Membaik, Begini Prospeknya
Saham yang relatif paling kuat menghadapi kondisi ini adalah saham berkapitalisasi besar dan likuid tinggi, terutama bank besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, BBNI yang menjadi benchmark investor asing.
Selain itu, saham defensif seperti TLKM dan ASII cenderung stabil saat volatilitas naik. Sektor komoditas besar seperti ADRO, ITMG, ANTM, dan MDKA juga tetap relevan, meski lebih dipengaruhi siklus global dibanding MSCI secara langsung.
Sementara itu, Chisty menilai kuartal II-2026 agak berbeda dengan kuartal I-2026 dari sisi euforia dividen. Pada periode ini, pergerakan pasar diperkirakan lebih dipengaruhi oleh kekuatan fundamental emiten, keberlanjutan kinerja laba (sustainability earnings), serta pergeseran rotasi sektor.
Dari sisi eksternal, volatilitas global mulai dari arah kebijakan suku bunga hingga meningkatnya tensi geopolitik masih menjadi faktor yang menahan laju penguatan pasar.
Dengan kondisi tersebut, kenaikan IHSG cenderung tidak merata dan lebih terkonsentrasi pada sektor serta saham tertentu.
Baca Juga: Laba Bangun Kosambi Sukses (CBDK) Melonjak 317% pada Kuartal I-2026
Untuk peluang, kuartal II-2026 diperkirakan masih didominasi oleh saham-saham berkapitalisasi besar (big caps), khususnya dari sektor komoditas serta sektor yang mulai mengalami rotasi.
Adapun sektor komoditas yang dinilai menarik meliputi batubara, nikel, CPO, dan timah. Sejumlah saham yang dapat dicermati antara lain ADRO, DSNG, TAPG, TINS, dan MDKA.
Pendekatan Selektif
Dalam menyikapi fenomena musim pembagian dividen, Chisty merekomendasikan investor memiliki pendekatan yang lebih selektif dan tidak terjebak pada ilusi dividend yield yang tinggi semata.
Yield yang tinggi seringkali bersifat misleading apabila tidak didukung oleh fundamental yang solid, karena bisa saja mencerminkan penurunan harga saham akibat memburuknya prospek kinerja.
Elandry juga menyarankan investor sebaiknya tidak hanya mengejar dividend yield tinggi, tetapi juga memastikan keberlanjutan dividen melalui analisis fundamental dan arus kas emiten agar terhindar dari dividend trap.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- Pasar Modal Indonesia
- Perbankan
- sektor komoditas
- MSCI Indonesia
- rekomendasi saham
- saham ADRO
- saham BBRI
- kinerja emiten
- Saham BSSR
- saham pembagi dividen
- saham big caps
- Dividend Yield
- dividen saham
- Arus Dana Asing
- Dividend Trap
- strategi investasi dividen
- dividen emiten
- dividen kuartal 1 2026
- saham AMAR













