kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Proyeksi analis: Harga batubara bullish dan bakal stabil sampai 2024


Rabu, 15 Januari 2020 / 05:55 WIB


Reporter: Irene Sugiharti | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Sementara itu, kendati beberapa negara Eropa dan AS memangkas penggunaan batubara, Deddy nilai hal ini tidak berdampak signifikan pasalnya masih tingginya konsumsi batubara dari negara-negara Asia. Hal ini juga yang sebabkan harga batubara diprediksikan masih akan terus stabil.

"Memang disebagian negara Eropa dan AS tampaknya penggunaan batubara ini sudah mengalami penurunan, cuman masih tingginya konsumsi batubara di kawasan Asia seperti China, Jepang, Korea Selatan dan Vietnam masih jadi salah satu pendorong," Deddy menambahkan.

Adanya peralihan dari batubara ke sumber energi terbarukan yang juga memerlukan biaya dan waktu juga masih jadi sentimen positif bagi konsumsi batubara khususnya di kawasan Asia.

Baca Juga: PTBA siap konversi lahan bekas tambang menjadi PLTS dan ladang sawit

Untuk tahun ini sendiri melihat kenaikan harga batubara yang terus terjadi dan menjadikannya berada di trend bulish menurut Deddy memungkinkan harga batu bara capai harga psikologis US$ 80 per ton.

"Kalau dilihat bisa saja harga 80 tersentuh karena belum ada sentimen negatif yang akan menekan harga batubara dalam waktu dekat. Jadi saya si lebih melihat karena ada ekspektasi yang cukup baik atau optimisme yang cukup tinggi terhadap kesepakatan dagang AS-China yang jadi salah satu pemicu tidak hanya di pasar komoditas tapi juga saham,"

Meskipun berpotensi capai harga US$ 80 per ton, Dedy sendiri prediksikan harga batubara hingga akhir tahun akan bergerak di harga US$ 70- US$ 80 per ton di tahun 2020.

Baca Juga: Menilik rencana pemerintah ubah lahan bekas tambang jadi ladang energi terbarukan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×