kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.085.000   40.000   1,31%
  • USD/IDR 16.809   26,00   0,15%
  • IDX 8.235   0,22   0,00%
  • KOMPAS100 1.156   -1,44   -0,12%
  • LQ45 834   -3,53   -0,42%
  • ISSI 293   0,28   0,09%
  • IDX30 440   -3,60   -0,81%
  • IDXHIDIV20 527   -6,48   -1,22%
  • IDX80 129   -0,27   -0,21%
  • IDXV30 143   -1,25   -0,87%
  • IDXQ30 141   -1,73   -1,21%

Prospek Saham PRDA dan DGNS Saat Kenaikan Biaya dan Daya Beli Tertekan


Rabu, 14 Januari 2026 / 18:04 WIB
Prospek Saham PRDA dan DGNS Saat Kenaikan Biaya dan Daya Beli Tertekan
ILUSTRASI. PT Prodia StemCell Indonesia (ProSTEM) (Dok/ProSTEM)


Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek saham PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) dan PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk (DGNS) pada 2026 masih dipandang belum akan moncer. 

Kondisi ini mengikuti profil risiko dan fase pertumbuhan masing-masing emiten. Sepanjang 2025, PRDA terkoreksi 6,69%, sementara DGNS justru naik 5%, analis menilai kinerja keduanya masih berada dalam fase pemulihan yang menantang.

Abdul Azis Setyo Wibowo, Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, mengatakan koreksi PRDA lebih mencerminkan perlambatan bisnis, sementara DGNS bahkan sempat mencatatkan rugi pada kuartal ketiga 2025. “Kami melihat prospek keduanya tahun ini masih moderat. Tantangannya terutama dari kenaikan biaya karena fluktuasi nilai tukar dan top line yang tertekan oleh daya beli yang belum pulih,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (13/1/2026).

Baca Juga: Menilik Prospek Emiten BUMN Karya Jelang Merger dan Rekomendasi Analis

Per September 2025, PRDA membukukan pendapatan Rp1,58 triliun, sedangkan DGNS meraih Rp 118,27 miliar. Meski demikian, momentum pertumbuhan masih perlu dikonfirmasi oleh perbaikan margin dan stabilisasi biaya operasional.

Azis menilai ekspansi DGNS ke Medan, Surabaya, dan Denpasar, serta rencana PRDA menjadi South East Asia Referral Laboratory, berpotensi menjadi katalis positif. Namun efeknya sangat bergantung pada kemampuan masing-masing perusahaan meningkatkan volume layanan sekaligus menjaga profitabilitas. “Investor tetap perlu mencermati risiko kompetisi yang ketat serta sensitivitas biaya operasional dan capex,” kata dia.

Dari sisi valuasi, PRDA dinilai lebih cocok untuk investor defensif dengan horizon jangka menengah-panjang, sedangkan DGNS lebih sesuai untuk investor agresif yang mengejar pertumbuhan namun siap menghadapi volatilitas lebih tinggi. Untuk saat ini, Kiwoom Sekuritas memilih bersikap netral. “Kami lebih merekomendasikan wait and see sambil menunggu perbaikan kinerja,” ujar Azis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×