Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) sepanjang 2026 diperkirakan masih menghadapi berbagai tantangan.
Pergeseran konsumen ke produk yang lebih murah, tekanan biaya bahan baku, serta pelemahan daya beli masyarakat dinilai masih menjadi hambatan bagi pertumbuhan industri barang konsumsi atau fast moving consumer goods (FMCG).
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta, mengatakan tren konsumen yang beralih ke produk dengan harga lebih terjangkau masih menjadi tantangan utama bagi Unilever. Di sisi lain, UNVR juga menghadapi tekanan margin akibat fluktuasi biaya input.
Baca Juga: Trimitra Trans (BLOG) Tebar Dividen Rp 70,96 Miliar, Kinerja 2025 Tumbuh Solid
Meski demikian, Nafan menilai kinerja Unilever tahun ini masih berpotensi membaik dibandingkan periode sebelumnya, terutama jika perusahaan mampu menjalankan transformasi bisnis yang saat ini sedang berlangsung. Diketahui UNVR telah menyelesaikan pemisahan bisnis es krim dan melanjutkan rencana divestasi bisnis teh sebagai strategi menukar skala dengan fokus.
"Kalau Unilever bisa memanfaatkan potensi tersebut, tentunya kinerja Unilever di tahun 2026 ini bisa diproyeksikan lebih baik dibandingkan dengan periode sebelumnya," ujar Nafan kepada Kontan, Selasa (2/6/2026).
Menurut dia, sinyal perbaikan mulai terlihat pada kuartal I-2026. Berdasarkan laporan keuangan, penjualan bersih UNVR tercatat sebesar Rp 8,44 triliun, naik 2,82% dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp 8,21 triliun. Pun total laba bersih UNVR melonjak 72,99% menjadi Rp 2,14 triliun per kuartal I-2026, jauh lebih tinggi dibandingkan Rp 1,24 triliun pada periode yang sama sebelumnya.
Nafan menilai peningkatan laba tersebut menunjukkan efektivitas langkah transformasi struktural yang dijalankan perusahaan. Saat ini, UNVR fokus melakukan efisiensi biaya operasional dan penataan ulang portofolio produk guna meningkatkan profitabilitas.
Meskipun demikian, ia mengingatkan bahwa prospek industri FMCG secara umum masih dibayangi lemahnya daya beli masyarakat. Kondisi ini membuat pertumbuhan konsumsi rumah tangga belum sepenuhnya pulih.
Baca Juga: Bursa Asia Menguat pada Rabu (3/6) Pagi, Mengekor Kenaikan Wall Street
Dari sisi katalis positif, Nafan melihat restrukturisasi internal dan transformasi bisnis yang dilakukan perusahaan dapat menjadi pendorong utama kinerja tahun ini. Berkurangnya beban operasional diharapkan dapat membantu menjaga profitabilitas di tengah tekanan biaya.
Selain itu, inovasi kemasan yang membuat produk tetap terjangkau bagi konsumen kelas menengah ke bawah tanpa mengorbankan kekuatan merek (brand equity) juga dinilai menjadi salah satu strategi yang dapat menopang penjualan.
UNVR juga dinilai memiliki peluang pertumbuhan dari fokus pada kategori health and beauty yang umumnya menawarkan margin lebih tinggi dibandingkan kategori produk lainnya. Di samping itu, pengembangan saluran distribusi digital dan digital commerce berpotensi memperluas jangkauan pasar perseroan.
Faktor musiman juga dapat menjadi katalis tambahan. Nafan berharap momentum peningkatan konsumsi pada periode liburan sekolah, Natal, dan Tahun Baru dapat mendukung permintaan produk-produk Unilever.
Di sisi lain, sejumlah sentimen negatif masih membayangi. Kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO) akibat konflik geopolitik di Timur Tengah berpotensi meningkatkan biaya bahan baku. Selain itu, kenaikan biaya logistik dan memperbesar tekanan terhadap harga input.
Pelemahan nilai tukar rupiah turut menjadi faktor yang perlu dicermati mengingat sebagian bahan baku, terutama yang berbasis kimia dan kemasan plastik, masih bergantung pada impor.
Dengan berbagai faktor tersebut, dari sisi rekomendasi saham, Nafan masih memberikan rating wait and see terhadap saham UNVR.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













