kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.012.000   68.000   2,31%
  • USD/IDR 16.905   -13,00   -0,08%
  • IDX 8.272   -2,31   -0,03%
  • KOMPAS100 1.164   0,60   0,05%
  • LQ45 835   1,00   0,12%
  • ISSI 295   -1,17   -0,39%
  • IDX30 437   0,09   0,02%
  • IDXHIDIV20 522   2,39   0,46%
  • IDX80 130   0,02   0,01%
  • IDXV30 143   -0,62   -0,43%
  • IDXQ30 140   0,46   0,33%

Prospek investasi kian membaik


Rabu, 13 Juli 2016 / 07:34 WIB
Prospek investasi kian membaik


Reporter: Maggie Quesada Sukiwan | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Persepsi investor terhadap risiko berinvestasi di Indonesia cenderung pulih. Salah satu indikasinya, angka credit default swap (CDS) Indonesia bertenor 5 tahun dan 10 tahun berada di level terendah tahun ini.

Risiko investasi suatu negara setidaknya tecermin dari CDS. Mengacu Bloomberg pada Selasa (12/7) pukul 14:25 WIB, CDS Indonesia bertenor lima tahun di angka 170,47 yang merupakan level terendah di sepanjang tahun ini.

Angka itu membaik 25,85% dari posisi akhir tahun lalu 229,92. Adapun CDS Indonesia bertenor 10 tahun mencapai 237,37, juga posisi terendah sepanjang tahun ini. Angka tersebut sudah pulih 24,48% ketimbang pencapaian tahun lalu di posisi 314,34.

Semakin rendah angka CDS, risiko berinvestasi di kawasan itu semakin minim. Sebaliknya, jika angka CDS tinggi, risiko investasi juga meningkat.

Ariawan, Analis Fixed Income BNI Securities, menilai, penurunan angka CDS yang signifikan dimulai sejak Dewan Perwakilan Rakyat mengesahkan kebijakan tax amnesty, yang berlaku sejak 1 Juli 2016.

Dari aturan ini, pemerintah berpeluang menambah penerimaan pajak hingga Rp 165 triliun. Apalagi sejak awal 2016, Bank Indonesia sudah memangkas bunga acuan (BI rate) sebanyak empat kali menjadi 6,5%.

Desmon Silitonga, Analis Capital Asset Management, berpendapat, membaiknya risiko investasi di Indonesia terdorong oleh faktor internal maupun eksternal. Dari internal, stabilitas dan penguatan rupiah. Di pasar spot kemarin, rupiah di posisi Rp 13.120 per dollar AS, menguat 4,84% dibandingkan posisi akhir tahun lalu, sebesar Rp 13.788 per dollar AS.

Kemudian inflasi dalam negeri terjaga. Badan Pusat Statistik menyebutkan, Indonesia mencatatkan inflasi 1,06% di periode Januari - Juni 2016. "Indikator makro internal rata-rata menunjukkan perbaikan," imbuh Desmon.

Dari eksternal, pasar global memang sempat tertekan pasca referendum Inggris yang memutuskan keluar dari Uni Eropa. Namun, Desmon menilai, hasil Brexit memicu Bank Sentral AS (The Fed) menahan rencana kenaikan suku bunga acuan yang saat ini di level 0,25% - 0,5%.

Sikap The Fed berimbas positif terhadap pasar Asia, termasuk Indonesia. "Eksternal sebenarnya melambat. Sehingga investor tetap masuk ke Asia karena masih berpotensi tumbuh," kata dia. Dana Moneter Internasional (IMF) beberapa waktu lalu memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini, dari semula 3,4% menjadi 3,2%.

Begitu pula Bank Dunia, menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini dari 2,9% ke 2,4%.

Masih ada tantangan

Ariawan meramal, hingga akhir 2016, ruang membaiknya risiko investasi dalam negeri masih terbuka. Dengan catatan, realisasi kebijakan tax amnesty berjalan lancar. Dari luar, efek Brexit niscaya berangsur menguap.

"Kalau The Fed tidak buru-buru menaikkan suku bunga atau tidak agresif, bisa menekan CDS lagi," dia menerka.

Senada, Desmon menilai, sejatinya risiko investasi di Indonesia berpeluang terus menurun. Sebab, inflasi dalam negeri berpotensi terjaga sesuai target 3%-5%. Performa mata uang Garuda juga lumayan kokoh. Namun, ada beberapa tantangan yang patut dicermati. Pertama, realisasi penerimaan pajak dari kebijakan tax amnesty.

"Kalau sampai akhir tahun ini tidak tercapai setengah, hal itu bisa menurunkan harapan para pelaku pasar," tutur Desmon.

Kedua, target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dipatok melebihi level 5%. Ketiga, realisasi berbagai paket kebijakan ekonomi pemerintah. Keempat, rencana kenaikan suku bunga Bank Sentral AS alias The Fed.

Pasar berspekulasi, setidaknya bakal ada satu kali kenaikan suku bunga acuan The Fed yang berpeluang direalisasikan pada September 2016 atau Desember 2016. Brexit juga penuh ketidakpastian. "Harus dilihat tarik ulurnya seperti apa, apakah akan ada referendum kedua," jelas Desmon.

Ariawan memprediksi, hingga pengujung tahun 2016, angka CDS Indonesia bertenor lima tahun akan berkisar di level 150 - 170. Sedangkan Desmon memproyeksikan, pada akhir tahun ini, CDS Indonesia bertenor lima tahun tercatat di sekitar 140.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×