kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.917.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.789   -61,00   -0,36%
  • IDX 8.975   24,32   0,27%
  • KOMPAS100 1.244   9,59   0,78%
  • LQ45 882   8,84   1,01%
  • ISSI 330   0,91   0,28%
  • IDX30 451   1,60   0,36%
  • IDXHIDIV20 533   1,62   0,31%
  • IDX80 138   1,09   0,79%
  • IDXV30 147   -0,35   -0,24%
  • IDXQ30 145   0,87   0,61%

Prospek Investasi ke Barang Eksotis Masih Lesu, Tren Pemulihan Bergantung Ekonomi


Jumat, 12 Desember 2025 / 19:27 WIB
Prospek Investasi ke Barang Eksotis Masih Lesu, Tren Pemulihan Bergantung Ekonomi
ILUSTRASI. Pameran seni janur kreasi (ANTARA FOTO/Maulana Surya). Pasar barang mewah dan segmen eksotis global diperkirakan stagnan karena minat kolektor melemah dan ekonomi belum stabil.


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Noverius Laoli

Pun soal tas mewah berbahan dasar kulit hewan, dia bilang ada banyak tren yang sedang diminati. Misalnya, gaya bucket bag, carryall, atau model shoulder bag tertentu. Hingga saat ini harga tas kulit mewah cenderung tetap tinggi karena materialnya dan prestige merek.

“Ke depannya, tas luxury masih menarik, terutama buat kolektor items. Tapi orang bakal makin rasional. Nggak asal beli mahal, tapi lebih fokus ke tas yang kualitasnya bagus, langka, dan punya nilai jual lagi,” ujar Rita.

Soal investasi eksotis ini, Perencana Keuangan Aidil Akbar Madjid menyebut, bahwa gejolak perekonomian dan pelemahan daya beli dalam negeri sebenarnya tak begitu memengaruhi pangsa pasar barang mewah.

Baca Juga: Perkuat Bisnis Logistik, Anak Usaha Chandra Daya Investasi (CDIA) Merilis Kapal Baru

Menurutnya prospek permintaan barang eksotis pada tahun depan akan tetap baik karena barang mewah ialah barang yang diminati oleh investor atau kolektor yang tidak sensitif terhadap harga dan kondisi ekonomi.

“Penikmat barang eksotis itu kalangan atas. Mereka mencari barang langka karena mereka ingin menunjukkan bahwa selain investasi, mereka juga ‘Cuma saya yang punya barang ini’ gitu,” terang Aidil.

Hingga saat ini, menurutnya investasi barang mewah di Indonesia cenderung ke segmen perhiasan, entah emas maupun berlian. Sementara untuk pasar seni rupa, mobil, dan barang eksotis lain, cenderung menunggu momentum dan barangnya langka sehingga tidak selalu tersedia.

Soal sinyal apakah investor barang eksotis akan beralih ke instrumen lain, menurutnya tidak. Karena investor eksotis sudah pasti punya aset lain yang juga likuid. Tapi dia bilang investor eksotis perlu melakukan diversifikasi aset dan pintar melihat peluang barang mewah mana yang punya value dan nilai jual baik.

Sementara itu, Perencana Keuangan Finansia Consulting, Eko Endarto bilang segmen barang eksotis yang diminati oleh pasar itu tak menentu. Semua memiliki peminat dan daya tarik masing-masing.

Baca Juga: JV Chandra Asri (TPIA) dan Glencore Investasi di Kilang Bukom Singapura

Jika itu termasuk barang koleksi, maka value atau nilainya bisa tidak terbatas sesuai dengan keinginan orang untuk memiliki. Kelangkaan menjadi nilai tambah, sehingga makin langka maka makin tinggi harganya.

Sama dengan Aidil, Eko juga mengamini bahwa pasar barang mewah dan eksotis cenderung stabil karena konsumennya ialah orang-orang yang termasuk high wealth. Ke depan, ada potensi permintaan barang mewah meningkat jika ada kelompok masyarakat yang naik kelas sosialnya.

“Jadi selama ekonomi belum baik maka pasar luxury akan didominasi mereka yang ultra-wealth. Jadi pasar akan kembali ke valuasi wajarnya,” terang Eko.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×