Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) diproyeksikan masih tetap prospektif pada tahun 2026.
Saham emiten perkebunan kelapa sawit ini juga dinilai masih menarik untuk dikoleksi investor seiring dengan kinerja keuangan yang solid dan prospek industri yang terjaga.
AALI Bagikan Dividen Rp881,5 Miliar
AALI menetapkan pembagian dividen tunai sebesar Rp881,5 miliar atau setara Rp458 per saham. Direktur Astra Agro Tingning Sukowignjo menyampaikan bahwa jumlah tersebut mencerminkan 60% dari laba bersih perseroan pada tahun buku 2025.
Sebelumnya, pada 24 Oktober 2025, AALI telah membayarkan dividen interim sebesar Rp236 miliar atau Rp123 per saham.
“Sisanya sebesar Rp647 miliar atau Rp335 per saham akan dibayarkan pada 13 Mei 2026 kepada pemegang saham,” ujarnya dalam Public Expose AALI, Rabu (15/4/2026).
Baca Juga: Aksi Profit Taking dan Depresiasi Rupiah Bikin IHSG Melemah Hari Ini (15/4)
Kinerja Keuangan 2025 Tumbuh Kuat
Sepanjang 2025, AALI membukukan laba bersih sebesar Rp1,5 triliun, meningkat 28% secara tahunan (year-on-year/yoy) di tengah volatilitas harga crude palm oil (CPO) dan produk turunannya.
Dari sisi pendapatan, perseroan mencatatkan kenaikan 31% menjadi Rp28,66 triliun dibandingkan Rp21,82 triliun pada tahun sebelumnya.
Presiden Direktur Astra Agro Djap Tet Fa menjelaskan bahwa peningkatan tersebut ditopang oleh kenaikan produksi dan volume penjualan.
“Adapun volume penjualan CPO dan turunannya di 2025 naik 13% menjadi 1,8 juta ton,” ungkapnya dalam kesempatan yang sama.
Produksi Naik, Didukung Efisiensi Operasional
Kenaikan kinerja juga ditopang oleh peningkatan produksi CPO sebesar 6% yoy menjadi 1,2 juta ton serta produksi kernel yang naik 8% yoy menjadi 252 ribu ton.
Namun, di tengah pertumbuhan tersebut, perusahaan tetap menghadapi tantangan dari sisi biaya operasional yang meningkat akibat tekanan global, termasuk energi dan logistik.
Capex 2026 Naik 79%, Fokus Replanting
Untuk tahun 2026, AALI mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar Rp1,4 triliun, meningkat 79% dibandingkan realisasi 2025 yang sebesar Rp782 miliar.
Dana tersebut akan difokuskan pada tiga area utama, yakni:
-
63,8% untuk sektor perkebunan (plantation), termasuk replanting
-
19,8% untuk pabrik (mill) dan pelabuhan (port)
-
16,4% untuk non-plantation seperti kendaraan angkut dan aset pendukung
Langkah replanting dilakukan untuk menjaga produktivitas di tengah usia tanaman yang semakin menua serta tekanan biaya produksi yang meningkat.
Baca Juga: Rupiah Cetak Rekor Terlemah, Cermati Efeknya terhadap Kinerja Mayora (MYOR)
Tekanan Biaya Energi dan Geopolitik
Perseroan juga menyoroti dampak eskalasi geopolitik global yang memicu kenaikan biaya energi dan input produksi.
Alokasi pada kendaraan angkut dan infrastruktur dinilai menjadi strategi penting untuk menjaga efisiensi operasional.
“Dengan memiliki infrastruktur angkut yang lebih mumpuni, perseroan berharap dapat mengontrol efisiensi operasional dengan lebih baik,” tuturnya.
Kenaikan harga minyak dunia juga berdampak pada lonjakan harga solar non-subsidi yang hampir dua kali lipat dalam beberapa waktu terakhir.
"Solar non-subsidi itu sudah meningkat. Sampai bulan April ini peningkatan sudah hampir 90% dari sebelumnya. Biasanya Rp14.000-Rp15.000, sekarang mungkin sudah hampir Rp25.000 (per liter)," tuturnya.
Selain itu, tensi geopolitik global juga turut mendorong kenaikan harga pupuk serta biaya logistik.
“Tensi geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) juga memberikan efek domino pada harga pupuk berbahan dasar urea dan amonia. Selain itu, kenaikan biaya logistik akibat tarif angkut yang membengkak,” katanya.
Proyeksi Analis: Pertumbuhan Tetap Solid
Research Associate Panin Sekuritas, Luthfi Novardiansyah, menilai prospek AALI pada 2026 masih cukup solid.
Menurutnya, dukungan utama berasal dari harga CPO global yang relatif kuat serta potensi peningkatan permintaan domestik melalui kebijakan biodiesel B50 yang direncanakan berlaku mulai 1 Juli 2026.
Namun, ia juga menyoroti tantangan dari program replanting yang dapat menahan pertumbuhan produksi jangka pendek.
“Hal ini pun berpotensi menekan produktivitas yang tercatat dengan fresh fruit bunches (FFB) Yield di 2025 sebesar 15,66 per ton,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (15/4/2026).
Luthfi merekomendasikan hold untuk saham AALI dengan target harga Rp8.350 per saham.
Rekomendasi Kiwoom Sekuritas: Trading Buy
Sementara itu, Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menilai kinerja AALI masih akan tumbuh meski lebih moderat dibandingkan tahun sebelumnya.
“Kinerja tahun lalu didorong oleh kenaikan harga CPO dan pemulihan produksi, di mana laba bersih naik sekitar 28% YoY,” katanya kepada Kontan, Rabu (15/4).
Ke depan, produksi diperkirakan masih dapat tumbuh sekitar 7% yoy, namun tertahan oleh program replanting yang membuat sebagian lahan belum produktif.
Ia menambahkan bahwa sentimen positif berasal dari harga CPO yang masih tinggi dan permintaan biodiesel, sementara risiko utama berasal dari volatilitas harga, cuaca, serta kenaikan biaya input.
Azis merekomendasikan trading buy untuk AALI dengan target harga Rp9.000 per saham, serta level support di Rp7.950–Rp7.900 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













