Reporter: Rashif Usman | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan hari ini dengan berada di zona merah. Mengacu pada data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup melemah 0,68% atau terpangkas 52,36 poin ke level 7.623,58 pada akhir perdagangan Rabu (15/4/2026).
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengungkapkan pelemahan IHSG antara lain disebabkan oleh aksi profit taking setelah mengalami reli sekitar sepekan terakhir.
Selain itu, rupiah juga mengalami pelemahan ke level Rp 17,140 per dolar Amerika Serikat (AS), di tengah penguatan tipis indeks Dolar AS (15/4/2026)
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengamini. Pelemahan indeks disebabkan oleh nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), serta aksi profit taking dari investor pasca indeks menghijau selama lima hari perdagangan sebelumnya.
Untuk perdagangan Kamis (16/4/2026), Herditya memperkirakan IHSG masih rawan bergerak terkoreksi dengan support 7.593 dan resistance 7.659.
Sementara itu, Alrich melihat secara teknikal, Stochastic RSI berada di area overbought dan membentuk Death Cross. Namun histogram positif MACD masih mengalami kenaikan, sehingga IHSG diprediksi akan mengalami konsolidasi pada kisaran 7.500-7.700 di perdagangan Kamis (16/4/2026).
Baca Juga: Pergerakan IHSG Dibayangi Pelemahan Rupiah, Ini Saham Pilihan Untuk Kuartal II-2026
Sentimen IHSG di Perdagangan Kamis (16/4/2026)
Herditya menerangkan pergerakan indeks esok akan diwarnai oleh sejumlah sentimen, antara lain rilis data makro AS dan juga rilis data GDP China.
"Di sisi lain, aksi profit taking kemungkinan masih berlanjut serta investor mencermati perkembangan negosiasi antara AS dan Iran," kata Herditya kepada Kontan, Rabu (15/4/2026).
Sementara itu, Alrich bilang bahwa investor akan mencermati data dari S&P Global Ratings, yang menyatakan bahwa peringkat utang negara Indonesia paling rentan terhadap konflik di Timur Tengah jika berlarut-larut. Kenaikan biaya energi akibat konflik tersebut diproyeksikan akan meningkatkan biaya subsidi Indonesia dan menekan anggaran belanja negara.
Impor minyak yang lebih mahal akan memperlebar defisit transaksi berjalan. S&P juga menilai percepatan inflasi akan mendorong kenaikan suku bunga yang dapat meningkatkan biaya pinjaman pemerintah.
Selain itu, blokade AS terhadap Selat Hormuz meningkatkan tekanan terhadap Tiongkok dan India. Dengan sekitar 98% ekspor minyak Iran menuju Tiongkok, serta menjelang pertemuan antara Presiden Trump dan Presiden Xi, meningkatkan risiko hubungan damai yang rentan antara AS dan Tiongkok.
Sementara hubungan antara AS dan India juga semakin kompleks karena kebijakan AS tersebut bertentangan dengan kepentingan ekonomi India yang sedang dilanda krisis energi.
Baca Juga: IHSG Melemah 0,68% ke 7.623 pada Rabu (15/4), BUMI, BBCA, BRPT Jadi Top Losers LQ45
Sebelumnya dijadwalkan Trump akan berkunjung ke Tiongkok pada pertengahan Mei, sehingga AS menginginkan hubungan bilateral yang cukup stabil agar pertemuan tersebut berjalan sesuai rencana. Namun adanya blokade Selat Hormuz dan ancaman tarif oleh AS, meningkatkan risiko akan kegagalan pertemuan tersebut.
Rekomendasi Saham
Herditya membagikan sejumlah rekomendasi saham untuk dicermati investor, antara lain, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) di target harga Rp 4.070-Rp 4.270, PT Harum Energy Tbk (HRUM) dengan target harga Rp 1.115-Rp 1.150, dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) di level target harga Rp 1.215-Rp 1.245 per saham.
Sementara itu, top pick saham pilihan dari Phintraco Sekuritas untuk perdagangan Kamis (16/4/2026), antara lain PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT Ciputra Development Tbk (CTRA) dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO).
Baca Juga: Ikuti Bursa Asia, IHSG Ngebut ke 7.700 di Awal Perdagangan Rabu (15/4/2026)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












