kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.593.000   1.000   0,04%
  • USD/IDR 17.693   -14,00   -0,08%
  • IDX 6.449   -11,72   -0,18%
  • KOMPAS100 852   -3,12   -0,37%
  • LQ45 649   -2,17   -0,33%
  • ISSI 223   0,28   0,12%
  • IDX30 360   -1,52   -0,42%
  • IDXHIDIV20 449   -2,07   -0,46%
  • IDX80 97   -0,38   -0,38%
  • IDXV30 124   -0,33   -0,27%
  • IDXQ30 116   -0,54   -0,46%

Produksi Nikel Matte Melonjak, Intip Prospek dan Rekomendasi Saham INCO


Rabu, 16 September 2026 / 14:36 WIB
Produksi Nikel Matte Melonjak, Intip Prospek dan Rekomendasi Saham INCO
ILUSTRASI. Pabrik pengolahan nikel milik Vale Indonesia INCO (Dok/INCO)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menghadapi tantangan fluktuasi harga komoditas nikel global dan kenaikan biaya energi di tengah upaya memperluas diversifikasi produk tambangnya.

Manajemen perseroan berupaya memacu pertumbuhan penjualan dan efisiensi operasional guna memitigasi ketidakpastian makroekonomi pada semester kedua 2026.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie menilai kinerja operasional INCO berada di jalur pemulihan yang solid secara berurutan pada semester kedua 2026. Pertumbuhan penjualan dan lonjakan volume produksi menjadi katalis pendorong utama kinerja emiten tambang nikel ini.

Baca Juga: Short Selling Berlaku Oktober 2025, BEI Siapkan 3–5 Saham LQ45 di Tahap Awal

Secara operasional, perseroan mencatatkan peningkatan produksi nikel matte sebesar 19% secara kuartalan (Quarter on Quarter/QoQ) menjadi 16.153 ton pada kuartal II 2026.

Pencapaian tersebut mendorong total volume produksi nikel matte INCO pada semester pertama 2026 hingga menyentuh angka 29.773 ton.

Adrian menyoroti keberhasilan perseroan dalam mempertahankan disiplin operasional di tengah dinamika pasar. Pencapaian produksi nikel matte pada semester pertama 2026 tersebut utamanya ditopang oleh penyelesaian proyek rebuild Electric Furnace 3 pada Juni 2026.

"Disiplin operasional perusahaan yang kuat serta peningkatan kapasitas memberikan landasan yang kokoh untuk menciptakan nilai berkelanjutan di tengah kondisi pasar yang dinamis," terang Adrian dalam risetnya, (7/8/2026).

Peningkatan kapasitas operasional tersebut berdampak positif terhadap realisasi volume penjualan perseroan. Penjualan bijih nikel (nickel ore) perseroan mencatatkan pertumbuhan yang sangat signifikan pada kuartal kedua 2026.

Blok Bahodopi membukukan penjualan saprolite ore sebesar 1,07 juta wet metric ton (wmt). Sementara itu, penjualan bijih nikel dari Blok Pomalaa tercatat melesat hingga mencapai 496 ribu wmt.

Kenaikan volume tersebut mendorong kinerja keuangan segmen bijih nikel secara drastis. Secara keseluruhan, pendapatan segmen nickel ore INCO melonjak hingga 2.840% secara tahunan (Year on Year/YoY) menjadi US$ 142 juta pada semester I-2026.

Pencapaian luar biasa ini menopang total pendapatan perseroan yang tumbuh 27% YoY, mencapai US$ 543 juta.

Laba bersih perseroan pada semester pertama 2026 pun meledak 313% yoy menjadi US$ 104 juta berkat efisiensi struktur biaya. Pada kuartal kedua 2026 saja, laba bersih INCO tercatat mencapai US$ 61 juta atau melonjak 39% secara kuartalan.

Meskipun biaya energi global seperti HSFO, diesel, dan batu bara meningkat, cash cost nikel matte INCO pada kuartal kedua 2026 berhasil membaik menjadi US$ 10.005 per ton. Margin laba kotor perseroan meningkat menjadi 28,04% dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 7,07%.

Di sisi lain, Analis UBS Global Research Igor Putra menggarisbawahi efisiensi biaya serta ramp up volume produksi yang berhasil melampaui estimasi konsensus pasar pada kuartal kedua 2026.

Peningkatan volume penjualan bijih nikel hingga 139% QoQ pada kuartal II-2026 secara signifikan memperkuat operating leverage dan menurunkan biaya unit. Biaya kas pada tambang nikel Pomalaa bahkan berhasil ditekan menjadi US$ 7 per wmt dari sebelumnya US$ 13 per wmt pada kuartal pertama 2026.

"Dengan penjualan bijih nikel/nikel matte pada semester pertama tahun 2026 yang mencapai 28%/41% dari estimasi kami untuk tahun 2026, kami meyakini INCO akan kembali mencatatkan pemulihan laba secara berurutan pada semester kedua tahun 2026 (H226), yang didorong oleh peningkatan pertumbuhan penjualan," ujar Igor dalam risetnya, (30/7/2026).

Igor Putra juga menilai perseroan memiliki narasi pertumbuhan pendapatan terbaik di antara emiten nikel lainnya. Transisi model bisnis struktural INCO dari sekadar penjual nikel matte menjadi pemasok bijih nikel dan mixed hydroxide precipitate (MHP) menjadi nilai tambah utama.

Kemitraan strategis INCO dengan perusahaan material energi baru asal China memperkuat posisi perseroan dalam menghadapi tantangan pasokan sulfur global.

Langkah ini sekaligus memperlancar kesiapan komisioning proyek High-Pressure Acid Leach (HPAL) yang ditargetkan berlangsung pada kuartal ketiga 2026.

Kendati demikian, Igor dan Adrian mengingatkan adanya sejumlah risiko penekanan kinerja emiten tambang ini. Risiko utama mencakup potensi penurunan harga nikel global, fluktuasi biaya energi, serta keterlambatan perizinan kuota penambangan (RKAB).

Atas berbagai faktor operasional dan prospek ekspansi margin tersebut, Igor dan Adrian mempertahankan pandangan positif terhadap saham INCO.

Adrian mempertahankan rekomendasi buy untuk saham INCO dengan target Rp 6.300 per saham.

Sementara itu, Igor mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp 8.400 per saham.

Baca Juga: Ekspansi Tiga Rumah Sakit, Cek Rekomendasi Saham Mitra Keluarga (MIKA)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×