Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia mulai melandai secara bertahap seiring dengan terdegradasinya sebagian premi risiko geopolitik akibat berangsur pulihnya rantai distribusi energi dari kawasan Teluk.
Berdasarkan data dari Trading Economics, harga minyak mentah jenis Crude Oil (WTI) berada di posisi US$ 92,219 per barel (naik 1,99%), sementara jenis Brent diperdagangkan di level US$ 100,465 per barel (naik 2,48%).
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo menilai bahwa pergerakan harga saat ini telah memasukkan premi risiko geopolitik yang sangat besar.
Koreksi melandai ini selaras dengan proyeksi Energy Information Administration (EIA) yang memperkirakan rata-rata harga Brent berada di sekitar US$ 90 per barel pada semester II-2026, sebelum melandai ke US$ 77 per barel pada kuartal II 2027 saat arus minyak Timur Tengah membaik.
Baca Juga: Bursa Saham Global Tertekan, Harga Minyak Tembus US$108 dan Yield AS Capai 5%
Menurut Sutopo, pasar sedang berada dalam masa transisi dari defisit pasokan menuju pemulihan bertahap.
International Energy Agency (IEA) mencatat penurunan pasokan dunia sebesar 5,7 juta barel per hari (bpd) menjadi 100,7 juta bpd pada 2026, sedangkan permintaan tergerus 2,5 juta bpd akibat tingginya harga energi.
Di sisi lain, pengetatan moneter global seperti tingginya yield Treasury AS sejak 2002 dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) turut membatasi ruang penguatan permintaan.
"Dengan volatilitas tinggi dan harga yang sudah di atas proyeksi dasar, pendekatan yang masuk akal adalah tidak mengejar harga, masuk atau keluar secara bertahap, menjaga ukuran posisi, dan memakai lindung nilai bila punya eksposur energi," kata Sutopo kepada Kontan, Kamis (1/10/2026).
Senada, Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures Brahmantya Himawan mengungkapkan bahwa pemicu utama melandainya harga adalah dibukanya jalur distribusi alternatif oleh Arab Saudi serta stabilnya produksi dan kenaikan persediaan minyak di Amerika Serikat.
Kendati demikian, risiko lonjakan harga susulan belum sepenuhnya reda karena Selat Hormuz belum beroperasi penuh dan ketidakpastian negosiasi diplomatik AS-Iran masih membayangi.
Baca Juga: Harga Minyak Dekati US$ 100, Bursa Global Tertekan Risiko Inflasi
"Koreksi WTI ke sekitar US$90 dan Brent ke bawah US$100 menunjukkan sebagian war premium dan logistics premium mulai berkurang," ujar Brahmantya.
Brahmantya menambahkan, selain perkembangan geopolitik di Teluk, pelaku pasar juga wajib mencermati dinamika permintaan dari China jelang musim dingin serta kebijakan kuota produksi OPEC+ sebagai benteng penahan jatuhnya harga.
Investor disarankan menerapkan strategi buy on weakness secara bertahap dengan mencermati area support WTI di kisaran US$ 85–US$ 88 per barel dan Brent di level US$ 92–US$ 95 per barel.
Hingga akhir tahun 2026, Sutopo memproyeksikan rentang skenario dasar (base case) untuk Brent berada di kisaran US$ 85–US$ 95 per barel dan WTI di level US$ 78–US$ 88 per barel, dengan titik tengah paling terdukung pada Brent di level US$ 90 per barel.
Sementara itu, Brahmantya memproyeksikan pergerakan rentang harga minyak hingga akhir 2026 berada di kisaran US$ 85–US$ 100 per barel untuk WTI dan US$ 92–US$ 105 per barel untuk Brent, dengan risiko lonjakan hingga US$ 110–US$ 120 jika eskalasi konflik kembali memuncak.
Baca Juga: Harga Minyak Melonjak 4%, Konflik AS-Iran Ancam Jalur Pasokan Energi Global
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














