kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.413.000   30.000   1,26%
  • USD/IDR 16.702   47,00   0,28%
  • IDX 8.509   -37,16   -0,43%
  • KOMPAS100 1.173   -6,40   -0,54%
  • LQ45 846   -6,27   -0,74%
  • ISSI 301   -0,86   -0,28%
  • IDX30 436   -3,82   -0,87%
  • IDXHIDIV20 504   -3,85   -0,76%
  • IDX80 132   -0,78   -0,59%
  • IDXV30 138   0,50   0,36%
  • IDXQ30 139   -1,24   -0,89%

Potensi Penurunan BI Rate Jadi Angin Segar Emiten Properti, Ini Rekomendasi sahamnya


Minggu, 30 November 2025 / 18:08 WIB
Potensi Penurunan BI Rate Jadi Angin Segar Emiten Properti, Ini Rekomendasi sahamnya
ILUSTRASI. Sektor Konsumer Diprediksi Menguat-Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (21/11/2025). KONTAN/Cheppy A. Muchlis/23/11/2025. BI Rate berpotensi turun hingga 2026, dorong permintaan properti menengah-premium. Analis ulas prospek BSDE, PWON, CTRA, SMRA.


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Langkah Bank Indonesia (BI) yang masih berpeluang untuk melakukan pemangkasan suku bunga acuan BI atau BI Rate hingga tahun 2026 dipandang sebagai angin segar bagi emiten properti, karena berpotensi mendorong permintaan di segmen menengah hingga premium.

Sejumlah analis memandang potensi penurunan BI Rate yang mencapai 50–75 bps sampai 2026 menjadi katalis positif bagi emiten seperti PT. Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Pakuwon Jati Tbk (PWON), PT. Ciputra Development Tbk (CTRA), dan PT. Summarecon Agung Tbk (SMRA).

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, mengamini jika BI Rate dipangkas lagi, sentiment confidence pembeli akan semakin terdongkrak. Menurut Liza, katalis ini akan berdampak signifikan untuk segmen properti kelas menengah, dan tetap positif untuk high-end meski tidak sekuat mass market.

Sementara itu Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, mengutarakan jika pemangkasan suku bunga acuan BI bisa berdampak terhadap dua hal.

Baca Juga: BBRI dan BUMI Terbanyak, Cek Saham Net Sell Terbesar Asing Sepekan Terakhir

Dari sisi perusahaan, penurunan suku bunga acuan akan menjadi katalis positif karena dapat menurunkan beban bunga dan menopang pertumbuhan laba bersih. Namun, dari sisi konsumen belum tentu demikian.

“Kami melihat suku bunga KPR masih berada pada level yang relatif tinggi, sehingga pemangkasan BI rate belum sepenuhnya mampu memberikan insentif langsung kepada pembeli,” ujar Harry kepada Kontan, Jumat (28/11/2025).

Selain sentimen BI Rate, Harry bilang, faktor lain yang perlu dicermati oleh investor ialah stabilitas harga material konstruksi seperti semen dan baja, serta pergerakan rupiah, mengingat nilai tukar memiliki dampak penting bagi emiten yang memiliki pinjaman dalam denominasi USD.

Selain itu, menurut pandangan Harry, ke depan permintaan properti diperkirakan masih didominasi upper-middle entry level di segmen residensial Rp1 - Rp5 miliar. Hal ini terutama karena beberapa emiten justru menurunkan target marketing sales mereka.

Namun, apabila tren ke hunian premium/high-end di atas Rp5 miliar benar-benar menguat, emiten berpotensi mendapatkan peningkatan margin, mengingat produk di segmen ini umumnya memberikan profitabilitas lebih tinggi.

Di sisi lain, Analis BRI Danareksa Sekuritas Ismail Fakhri Suweleh & Wilastita Muthia Sofi justru memandang sebaliknya. Katanya, permintaan residensial diperkirakan bergeser ke segmen hunian premium/high-end di atas Rp5 miliar.

Dalam risetnya dipaparkan bahwa diskusi terbaru dengan para pengembang menunjukkan bahwa permintaan residensial yang sebelumnya didorong oleh pembeli kelas menengah atas di segmen Rp1 – Rp5 miliar kini mulai melambat. Sebaliknya, segmen di atas Rp5 miliar justru menguat.

“Para pengembang berencana memfokuskan peluncuran FY26 pada segmen ini (di atas Rp5 miliar),” terang Ismail dan Wilastita dalam risetnya, Jumat (21/11/2025).

Padahal seperti yang diketahui, insentif PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) 100% untuk pembelian properti rumah susun dengan harga jual hingga Rp5 miliar juga diperpanjang hingga 31 Desember 2027 miliar. Tetapi kontribusi pre-sales properti di atas Rp5 miliar pun tetap meningkat.

Lebih lanjut Liza bilang, selain PPN DTP, arah LTV (Loan to Value), penyaluran KPR, dan progres infrastruktur di sekitar township juga turut perlu dijadikan perhatian.

“Selain itu, stabilitas rupiah dan daya beli kelas menengah-atas akan sangat menentukan penjualan,” ujar Liza.

Liza pun memproyeksi kinerja emiten sektor properti hingga tahun 2026 akan stabil hingga meningkat moderat, dengan BSDE dan SMRA tampil paling agresif secara marketing sales. Sementara CTRA tetap solid secara skala, dan PWON lebih defensif lewat recurring income.

Sementara Harry melihat outlook untuk emiten dengan porsi recurring income yang besar cenderung akan stabil. Sementara untuk emiten yang lebih bergantung pada penjualan rumah tapak, terdapat potensi penurunan margin apabila kontribusi dari produk hunian yang lebih terjangkau meningkat dalam portofolio penjualan mereka.

Ismail dan Wilastita pun menekankan pre-sales residensial hingga tahun 2026 yang lebih stabil diperkirakan berasal dari pengembang dengan porsi produk kelas atas, sementara kinerja kawasan industri akan sangat bergantung pada proposition masing-masing aset.

Rekomendasi saham

Ismail dan Wilastita, merekomendasikan investor untuk beli saham CTRA dengan target harga Rp 1.600 per saham, kemudian beli saham PWON dengan target harga Rp 640 per saham, beli saham SMRA dengan target harga Rp 800 per saham, serta beli saham BSDE dengan target harga Rp 1.450 per saham.

Ada pun Harry juga merekomendasikan investor untuk beli keempat saham sektor properti di atas. Yang mana beli saham BSDE dengan target harga Rp 1,237 per saham, beli CTRA dengan target harga Rp 1.308 per saham, beli SMRA dengan target harga Rp 573 per saham, dan beli PWON dengan target harga Rp 516 per saham.

Terakhir, Liza juga merekomendasikan investor untuk mencermati empat saham emiten properti tersebut. Direkomendasikan beli BSDE dengan target harga Rp 1.230 per saham, beli CTRA dengan target harga Rp 1.300 per saham, beli SMRA dengan target harga Rp 570, dan beli saham PWON dengan target harga Rp 515 per saham dalam 12 bulan ke depan.

Baca Juga: Emiten Berbondong-Bondong Terbitkan Obligasi pada Akhir 2025, Simak Rekomendasinya

Selanjutnya: Dukung Penanggulangan Bencana, Pertamina Patra Niaga Dorong Distribusi Energi

Menarik Dibaca: Hasil Syed Modi India International 2025, Indonesia Bawa Pulang Juara Ganda Campuran

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mitigasi, Tips, dan Kertas Kerja SPT Tahunan PPh Coretax Orang Pribadi dan Badan Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM)

[X]
×