CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.601.000   -9.000   -0,34%
  • USD/IDR 17.962   0,00   0,00%
  • IDX 6.252   20,14   0,32%
  • KOMPAS100 826   3,44   0,42%
  • LQ45 631   2,89   0,46%
  • ISSI 215   0,71   0,33%
  • IDX30 356   1,07   0,30%
  • IDXHIDIV20 442   1,69   0,38%
  • IDX80 94   0,27   0,29%
  • IDXV30 118   0,30   0,26%
  • IDXQ30 114   0,49   0,43%

PGAS Dibayangi Kebijakan Harga Gas Baru, Begini Prospek dan Rekomendasi Sahamnya


Senin, 20 Juli 2026 / 17:57 WIB
PGAS Dibayangi Kebijakan Harga Gas Baru, Begini Prospek dan Rekomendasi Sahamnya
ILUSTRASI. Simak rekomendasi saham Perusahaan Gas Negara (PGAS) yang masih menarik meski pemerintah berencana membatasi harga gas berbasis LNG (PGN/NATIVE)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dinilai masih menarik meski pemerintah berencana membatasi harga gas berbasis liquefied natural gas (LNG). 

Perlu diketahui, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana menerapkan kebijakan baru untuk menurunkan harga gas industri non-subsidi menjadi US$ 13 per mmbtu berlaku secara nasional.

Menurut ESDM, tingginya harga gas menjadi alasan utama penerapan kebijakan tersebut. Harga gas yang bersumber dari LNG mencapai sekitar US$ 20-21 per mmbtu pada Juni 2026, sehingga meningkatkan biaya bagi sektor industri. Kenaikan tersebut dipicu lonjakan harga minyak pada Maret lalu mengingat harga LNG umumnya mengacu pada harga minyak dengan jeda sekitar tiga bulan.

Analis UBS Sekuritas Indonesia Timothy Handerson mengatakan, dampak pembatasan harga sementara terhadap PGAS diperkirakan tidak sebesar yang dikhawatirkan. Timothy mengungkap, beberapa poin penting hasil diskusi UBS dengan manajemen PGAS.

Baca Juga: Tempo Scan (TSPC) Gandeng Farmasi China, Bidik Bisnis Biopharmaceutical

Pertama, kebijakan pembatasan harga gas yang berasal dari LNG hanya bersifat sementara, berlaku selama enam bulan, yaitu Juli hingga Desember 2026.

Kedua, upaya menurunkan harga gas akan ditanggung bersama oleh seluruh rantai pasok melalui penyesuaian porsi penerimaan pemerintah di sektor hulu, harga jual gas di hulu, biaya pengolahan LNG, serta biaya perdagangan dan infrastruktur.

Ketiga, kebijakan tersebut belum mulai diterapkan karena masih menunggu regulasi resmi dari pemerintah.

"Kami menilai penyesuaian terbesar kemungkinan akan terjadi pada kuartal III-2026, mengingat harga kargo LNG mengacu pada rata-rata harga minyak kuartal-II 2026 yang mencapai sekitar US$ 110 per barel, jauh di atas harga spot saat ini yang berada di kisaran US$ 70 per barel," ujar Timothy dalam riset 13 Juli 2026.

Tetapi di sisi lain, Analis JP Morgan Sekuritas Indonesia Arnanto Januri mengatakan, regulasi baru tersebut akan memengaruhi rata-rata harga jual LNG PGAS, yang saat ini berada di atas US$ 14 per mmbtu. 

Berdasarkan estimasi Arnanto, penjualan LNG akan menyumbang sekitar 20% dari total volume gas pada 2026 dan meningkat menjadi 40% pada 2027. Ia pun memperkirakan penurunan harga LNG akan diterapkan melalui kombinasi dua mekanisme.

Yakni pertama, penurunan harga gas di sektor hulu, sehingga biaya pembelian gas PGAS ikui menurun. Dan mekanisme kedua, penurunan margin distribusi gas PGAS sehingga harga jual akhir kepada pelanggan menjadi lebih rendah.

Pemerintah telah menjelaskan bahwa penurunan harga LNG akan ditanggung bersama oleh pelaku di sektor hulu maupun hilir. Namun, hingga kini belum ada kejelasan mengenai mekanisme pembagian beban tersebut.

 

"Kami memperkirakan harga gas di sektor hulu akan diturunkan, dengan sebagian dampaknya dikompensasi melalui penurunan porsi penerimaan pemerintah agar keekonomian proyek hulu tetap terjaga," ungkap Arnanto.

Di sisi lain, PGAS diperkirakan akan memangkas margin distribusinya untuk menurunkan harga jual LNG kepada pelanggan. Apabila beban penurunan harga dibagi secara seimbang antara sektor hulu dan hilir, Arnanto memperkirakan, terdapat potensi penurunan laba per saham (EPS) PGAS sebesar 9% pada 2026 dan 22% pada 2027.

Namun, Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi bilang, PGAS merupakan perusahaan utilitas transmisi dan distribusi terbesar di Indonesia serta anak usaha Pertamina.

Saat ini, saham PGAS diperdagangkan pada valuasi sekitar 1,9 kali EV/EBITDA proyeksi 2026 dan sekitar 0,95 kali nilai buku (price to book value/PBV). Sementara itu, posisi kas bersih (net cash) diperkirakan terus meningkat hingga mencapai sekitar Rp 25 triliun pada 2028, atau lebih dari separuh kapitalisasi pasarnya.

Menurut Wafi, valuasi tersebut dinilai masih menarik untuk perusahaan utilitas yang memiliki bisnis teregulasi dengan kemampuan menghasilkan arus kas yang kuat dan stabil.

Dari sisi keuangan, Timothy memperkirakan akan membaik pada full year 2026. Pendapatan PGAS diproyeksikan mencapai US$ 4,197 miliar pada 2026, naik sekitar 5,6% YoY dibandingkan realisasi 2025 yang sebesar US$ 3,976 miliar.

Baca Juga: IHSG Berpotensi Menguat pada Selasa (21/7), Investor Mulai Bidik Saham Perbankan

Sejalan dengan itu, laba bersih PGAS diperkirakan meningkat lebih signifikan menjadi US$ 290 juta pada 2026. Proyeksi tersebut mencerminkan kenaikan sekitar 34,9% YoY dibandingkan realisasi laba bersih 2025 yang sebesar US$ 215 juta.

Melihat berbagai faktor di atas, Timothy pun memberikan rekomendasi kepada investor untuk buy saham PGAS dengan target harga Rp 1.960 per saham. Kemudian Wafi juga memberikan rekomendasi kepada investor untuk buy saham PGAS dengan target harga Rp 2.200 per saham.

Sementara itu, Arnanto memberikan rekomendasi untuk overweight PGAS dengan target harga Rp 2.150 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×