Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah perundingan antara Amerika Serikat (United States) dan Iran (Iran) berakhir tanpa kesepakatan.
Kondisi ini memicu ekspektasi bahwa harga logam mulia atau emas berpotensi kembali menguat dalam waktu dekat, seiring meningkatnya risiko konflik di Timur Tengah.
Perundingan Buntu Picu Kekhawatiran Pasar Global
Gagalnya perundingan antara Washington dan Teheran menambah ketidakpastian di pasar global. Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa dalam jeda dua minggu ke depan, baik Amerika Serikat bersama Israel (Israel) maupun Iran diperkirakan akan melakukan konsolidasi kekuatan masing-masing.
Ia bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa eskalasi konflik dapat kembali mengarah pada potensi perang terbuka di kawasan tersebut.
“Kalau memang benar – benar terjadi perang terbuka, ini akan membantu naiknya harga emas,” kata Ibrahim, Minggu (12/4/2026).
Baca Juga: Menilik Nasib Pasar Saham Pasca BEI Delisting 18 Emiten
Pernyataan tersebut mencerminkan meningkatnya sensitivitas pasar terhadap risiko geopolitik, terutama di kawasan yang menjadi pusat produksi dan distribusi energi dunia.
Risiko Selat Hormuz dan Dampaknya ke Pasar Energi
Salah satu skenario yang menjadi perhatian pasar adalah kemungkinan penutupan Selat Hormuz (Selat Hormuz) oleh Iran. Jalur strategis ini merupakan salah satu titik paling penting dalam perdagangan minyak global.
Menurut Ibrahim, jika skenario tersebut terjadi, maka dampaknya akan sangat luas. Harga minyak dunia diperkirakan melonjak, indeks dolar AS menguat, dan tekanan inflasi global akan meningkat.
Dalam kondisi tersebut, bank sentral global kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkannya kembali guna meredam inflasi yang dipicu lonjakan harga energi.
Proyeksi Support dan Resistance Harga Emas
Dalam sepekan ke depan, pergerakan harga emas diperkirakan masih akan sangat volatil, dipengaruhi sentimen geopolitik serta arah kebijakan moneter global.
Jika terjadi koreksi, Ibrahim memproyeksikan:
-
Support pertama emas dunia berada di level US$ 4.638 per troy ons, dengan harga logam mulia sekitar Rp 2.840.000 per gram.
-
Jika tekanan berlanjut, support kedua diperkirakan di US$ 4.358 per troy ons, dengan harga emas dalam negeri sekitar Rp 2.780.000 per gram.
Namun, apabila harga justru menguat, maka:
-
Resistance pertama emas dunia diperkirakan di US$ 4.897 per troy ons, dengan harga logam mulia sekitar Rp 2.880.000 per gram.
-
Jika momentum bullish berlanjut, emas berpotensi menembus level psikologis baru di atas US$ 5.000 per troy ons, yakni sekitar US$ 5.138 per troy ons, dengan harga logam mulia mencapai sekitar Rp 3.100.000 per gram.
Baca Juga: Peluang Cuan Dividen Masih Terbuka, Analis Soroti Beberapa Saham Berikut
Potensi Emas Sentuh Rp 3 Juta per Gram
Dengan meningkatnya ketidakpastian global, emas kembali dipandang sebagai aset lindung nilai (safe haven). Investor cenderung mengalihkan portofolio ke aset yang lebih aman ketika risiko geopolitik dan inflasi meningkat.
“Jadi ada kemungkinan besar (logam mulia) ke Rp 3.100.000 per gram,” ucap Ibrahim.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa emas masih memiliki ruang penguatan signifikan jika ketegangan antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel terus berlanjut tanpa adanya kesepakatan diplomatik baru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













