kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Perang dagang mereda, harga nikel berpeluang menguat


Minggu, 15 September 2019 / 15:00 WIB

Perang dagang mereda, harga nikel berpeluang menguat
ILUSTRASI.


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan harga nikel berpeluang untuk menguat hingga akhir tahun. Meskipun diakui, sentimen seperti perang dagang masih sangat berpengaruh terhadap pergerakan logam tersebut. 

Mengutip Bloomberg, Jumat (13/9), harga nikel untuk pengiriman tiga bulan ke depan di London Metal Exchange turun ke US$ 17.750 per metrik ton, turun 1,33% ketimbang hari sebelumnya. Dalam sepekan, harga nikel masih menguat 0,37%.

Analis PT Pruton Mega Berjangka Cahyo Dewanto mengungkapkan, harga nikel berpeluang untuk mengalami penguatan pekan depan menuju level US$ 19.000 per metrik ton hingga US$ 20.000 per metrik ton. Sentimen utamanya datang dari optimisme pelaku pasar terkait progres penyelesaian sentimen perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China. 

"Ada sinyal progres kesepakatan dagang yang positif antara AS dan China," jelas Cahyo kepada Kontan, Jumat (13/9).

Baca Juga: Harga tembaga tertekan karena pelemahan data ekonomi China

Ditambah lagi, keputusan AS sebelumnya untuk menunda pengenaan tarif impor sebanyak US$ 250 miliar di 15 Oktober nanti, turut di sambut positif oleh pelaku pasar. Disusul keputusan China untuk menghapus tarif 16 produk barang AS.

Untuk itu, Cahyo optimistis progres meredanya sentimen perang dagang bisa membuat industri nikel kembali bergeliat. Hal tersebut, diyakini mampu membuat industri otomotif khususnya mobil listrik ikut menggeliat. Apalagi, mobil listrik sangat membutuhkan nikel sebagai bahan baterai, dengan begitu harapannya harga nikel bakal terus menanjak.

"Intinya, sentimen perang dagang masih menjadi perhatian utama khususnya sikap Presiden AS Donald Trump dan kebijakan tarif impornya terhadap China," ujarnya.

Baca Juga: Perang Dagang AS dan China Mereda, Harga Timah Naik

Hingga akhir tahun, Cahyo memperkirakan pergerakan harga nikel bakal berada di kisaran US$ 18.000 per metrik ton hingga US$ 21.000 per metrik ton, dengan rekomendasi beli. Proyeksi tersebut turut didukung sentimen teknikal, di mana pergerakan harga untuk moving average (MA)50, MA100, MA200 mengindikasikan posisi untuk beli.

Sedangkan untuk indikator RSI mengindikasikan posisi beli, sementara untuk indikator Stochastic cenderung direkomendasikan sell. Adapun untuk indikator MACD, ADX, dan CCI kompak menunjukkan posisi buy.


Reporter: Intan Nirmala Sari
Editor: Wahyu Rahmawati

Video Pilihan


Close [X]
×