kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45702,42   14,31   2.08%
  • EMAS934.000 -1,06%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Perang dagang AS-China mereda, simak rekomendasi bagi investor agresif & moderat


Rabu, 15 Januari 2020 / 20:18 WIB
Perang dagang AS-China mereda, simak rekomendasi bagi investor agresif & moderat
ILUSTRASI. Investor akan memperhatikan perbaikan pertumbuhan laba emiten dan proses kesepakatan dagang lanjutan.

Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: Wahyu Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang bakal berlangsung, Rabu (15/1) waktu Washington, mempermanis prospek investasi di 2020. Apalagi, sejak akhir 2019 sinyal kesepakatan dagang kedua negara ekonomi raksasa dunia tersebut sangat jelas.

"Minat investor asing, bakal kembali ke aset-aset negara berkembang, termasuk ke Indonesia," kata Head of Investment Avrist Asset Management Farash Farich kepada Kontan.co.id, Rabu (15/1).

Apalagi, Farash mengungkapkan di awal 2020 saja aliran dana asing yang masuk ke Tanah Air sudah mencapai US$ 1 miliar. Dengan begitu, seiring dengan kesepakatan dagang antara AS dan China, investor cenderung akan tertarik pada instrumen investasi seperti saham dan obligasi.

Baca Juga: Perdamaian AS-China makin dekat, investasi saham dan obligasi akan lebih menarik

Menurutnya, investor akan memperhatikan perbaikan pertumbuhan laba emiten dan proses kesepakatan dagang lanjutan, yakni fase kedua. Farash memperkirakan potensi imbal hasil untuk pasar saham tahun ini berasa di kisaran 10% hingga 12% per tahun.

"Instrumen high risk lebih menarik, ekspektasinya kinerja saham bisa lebih baik dari tahun lalu dan dari pendapatan tetap. Asalkan, tidak muncul faktor negatif seperti tersendatnya trade deal dan kenaikan harga minyak karena konflik Iran," ujar Farash.

Adapun untuk potensi yield surat berharga negara (SBN) tenor 5 tahun diperkirakan berada di kisaran 8% hingga 9%. Sedangkan untuk obligasi korporasi diperkirakan mampu memberikan imbal hasil 9% hingga 10%.

Baca Juga: Pasar hati-hati, rupiah ditutup melemah 0,11% menjadi Rp 13.695 per dolar AS

Sejalan dengan masih positifnya prospek investasi di 2020, Avrist Asset Management cenderung menerapkan perpanjangan durasi portofolionya. Khususnya, untuk portofolio obligasi dan sepenuhnya diinvestasikan ke saham, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Untuk investor agresif, Farash merekomendasikan untuk menerapkan strategi serupa dengan manajer investasi (MI) dalam penyusunan portofolionya. Sedangkan bagi investor moderat, dia menyarankan untuk tetap menjaga komposisi portofolio campuran antara saham dan pendapatan tetap di 50% dan 45%. "Untuk porsi kas bisa diminimalkan, baik bagi investor agresif maupun investor moderat," tandasnya.




TERBARU
Terpopuler

Close [X]
×