kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45670,77   -28,01   -4.01%
  • EMAS926.000 0,22%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Perdamaian AS-China makin dekat, investasi saham dan obligasi akan lebih menarik


Rabu, 15 Januari 2020 / 19:06 WIB
Perdamaian AS-China makin dekat, investasi saham dan obligasi akan lebih menarik
ILUSTRASI. Prospek investasi di 2020 diperkirakan akan lebih positif dibandingkan 2019.

Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: Wahyu Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penandatangan kesepakatan dagang fase pertama antara Amerika Serikat (AS) dan China dinilai mampu menaikkan pamor aset dengan risiko tinggi. Bahkan prospek investasi di 2020 diperkirakan akan lebih positif dibandingkan 2019.

Presiden Direktur Sucorinvest Asset Management Jemmy Paul Wawointana mengungkapkan prospek ekonomi akan semakin membaik dengan tercapainya kesepakatan dagang fase pertama. Meski sentimen terkait konflik AS dan Iran masih memberikan kekhawatiran di pasar.

"Kami pikir ekonomi dunia akan membaik lagi setelah sempat slowing down, lebih bagus masuk ke agresif seperti saham dan obligasi," kata Jemmy kepada Kontan.co.id, Rabu (15/1).

Baca Juga: Usai Jiwasraya, apa kata Kementerian BUMN soal keterlibatan Benny Tjokro di Asabri?

Apalagi, selama ini pasar cenderung khawatir untuk masuk ke instrumen berisiko tinggi lantaran meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi pasar global, khususnya perang dagang dan konflik geopolitik. Sehingga, berkurangnya kekhawatiran di pasar menjadi sentimen positif bagi prospek investasi ke depan.

Jemmy menilai, sentimen domestik cukup mendukung investor untuk masuk ke instrumen dengan risiko tinggi. Hal ini tercermin dari kondisi rupiah yang menguat dan berdampak positif bagi biaya pendanaan atau cost of fund (COF) yang cenderung turun.

Selain itu, tren suku bunga turun juga masih akan berlanjut. Jemmy memperkirakan ada ruang 1-3 kali bagi Bank Indonesia (BI) kembali memangkas suku bunga acuan tahun ini. "Potensi hingga tiga kali, jika rupiahnya menguat hingga ke Rp 12.000 per dolar AS," jelasnya.

Baca Juga: Tengah godok aturan market maker, BEI sebut biaya transaksi bisa nol

Untuk akhir 2020, Jemmy pun optimistis rupiah bisa menguat dan berada di kisaran Rp 13.000 per dolar AS. Hal tersebut didukung dengan penurunan impor minyak seiring dengan kebijakan B30 dari pemerintah. Ditambah lagi, ekspor produk manufaktur juga mulai meningkat didukung hilirisasi. "Obligasi juga bisa naik banyak tahun ini, dan mudah-mudahan prospek investasi lebih baik di 2020," ungkapnya.

Bagi investor yang bersikap moderat atau pasif, Jemmy merekomendasikan untuk menambah portofolio reksadana saham sekitar 5%, disusul penambahan porsi surat utang negara (SUN) sekitar 5%-10%, emas sebagai hedging sekitar 5%. Sedangkan porsi cash bisa ditambah 10%. Sedangkan untuk investor agresif, Jemmy merekomendasikan untuk menjadikan saham sebagai dominasi asetnya, dengan porsi cash ditingkatkan 10%.

Bagi Sucorinvest Asset Management, Jemmy mengungkapkan tidak banyak yang berubah dalam pengelolaan aset di 2020, khususnya terkait penandatangan kesepakatan dagang AS dan China. "Kami masih overweight di equity, tapi kami juga tengah melihat SUN. Kalau rupiahnya semakin menguat, mungkin mau tambah SUN dari obligasi korporasi pindah ke SUN. Obligasi korporasi tidak banyak bergerak," pungkas Jemmy.




TERBARU

Close [X]
×