kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.572.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.034   74,00   0,41%
  • IDX 5.185   -678,68   -11,57%
  • KOMPAS100 658   -103,29   -13,57%
  • LQ45 509   -81,53   -13,82%
  • ISSI 179   -22,02   -10,93%
  • IDX30 284   -45,14   -13,73%
  • IDXHIDIV20 366   -56,36   -13,33%
  • IDX80 75   -11,86   -13,59%
  • IDXV30 102   -13,53   -11,68%
  • IDXQ30 93   -14,99   -13,88%

Penjualan SBR015 Tenor Pendek Ngebut Jelang Penutupan


Minggu, 18 Oktober 2026 / 19:12 WIB
Penjualan SBR015 Tenor Pendek Ngebut Jelang Penutupan
ILUSTRASI. Penjualan SBR015 tenor 2 tahun telah mencapai 74,71% dari kuota yang tersedia dengan penjualan tenor 4 tahun baru mencapai 29,43% (Dok/DJPPR)

Reporter: Vivit Dewi | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penjualan Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR015 tenor 2 tahun lebih kencang dibandingkan tenor 4 tahun menjelang penutupan masa penawaran pada 22 Oktober 2026.

Melansir data transaksi di mitra distribusi Bareksa per 18 Oktober 2026 pukul 16.00 WIB, penjualan SBR015 tenor 2 tahun telah mencapai 74,71% dari kuota yang tersedia. Sementara itu, penjualan tenor 4 tahun baru mencapai 29,43%.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, tekanan di pasar saham berpotensi mendorong investor mencari instrumen yang lebih stabil. Namun, investor juga mempertimbangkan jangka waktu penempatan dana dan kemudahan pencairan investasi.

Baca Juga: Intip Nasib Emiten Danantara di Pusaran Gejolak Pasar dan Ketidakpastian Kebijakan

"Perbedaan persentase penyerapan juga berpotensi semakin melebar apabila ketidakpastian pasar berlanjut dan investor semakin menghindari penguncian dana jangka panjang," ujar Josua kepada Kontan, Sabtu (17/10/2026).

Menurutnya, selisih kupon kedua tenor yang hanya 0,10 poin persentase per tahun belum tentu cukup menarik investor untuk memilih tenor 4 tahun.

Asal tahu saja, SBR015 menawarkan kupon minimal 6,75% per tahun untuk tenor 2 tahun dan 6,85% untuk tenor 4 tahun, dengan pembayaran setiap bulan.

Selain tekanan pasar saham, ketidakpastian global juga menjadi sentimen yang perlu dicermati. Josua menyoroti kenaikan indeks harga produsen atau producer price index (PPI) Amerika Serikat periode September 2026 sebesar 1,3% secara bulanan dan 6,3% secara tahunan, yang melampaui perkiraan pasar.

Kenaikan tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa inflasi AS masih tinggi sehingga The Federal Reserve berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Bagi investor SBR015, kondisi ini membuat arah suku bunga menjadi penting karena kupon instrumen tersebut dapat menyesuaikan dengan suku bunga acuan Bank Indonesia, dengan tetap memiliki batas minimal.

"Jika tekanan nilai tukar dan inflasi mendorong Bank Indonesia mempertahankan atau menaikkan suku bunga, kupon SBR015 berpeluang meningkat pada periode penyesuaian berikutnya, sementara jika suku bunga turun, investor tetap memperoleh kupon minimal yang telah ditetapkan," tutur Josua.

Baca Juga: Denda OJK Rp 2,1 Triliun, Asing Masih Kabur dari Pasar Saham

Meski begitu, peluang peningkatan penjualan tidak serta-merta menjamin kedua tenor akan terserap penuh. Investor tetap perlu mempertimbangkan bahwa SBR015 tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder dan pencairan sebelum jatuh tempo hanya dapat dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.

Mengutip data Bareksa per 15 Oktober 2026, kuota nasional SBR015 ditetapkan sebesar Rp 12 triliun untuk tenor 2 tahun dan Rp 8 triliun untuk tenor 4 tahun. Masa penawaran akan berakhir pada 22 Oktober 2026 pukul 10.00 WIB. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

×