kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Penguatan tembaga terhadang libur imlek


Senin, 23 Januari 2017 / 18:57 WIB


Reporter: RR Putri Werdiningsih | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Setelah pelantikan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) ke 45 akhir pekan lalu harga komoditas tembaga pun terus mengalami penguatan.

Pucuk pimpinan negeri Paman Sam itu ternyata justru semakin memberikan sentimen negatif bagi dollar AS sehingga melambungkan harga logam industri dan aset save haven. Diperkirakan harga tembaga akan terus menguat hingga libur tahun baru China.

Mengutip Bloomberg, harga tembaga kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange tercatat menguat 0,15% ke level US$ 5.748 per metrik ton dibanding hari sebelumnya. Sedangkan jika dibandingkan sepekan terakhir harganya malah menunjukkan koreksi sekitar 2,7%.

Andri Hardianto, analis PT Asia Tradepoint Futures mengatakan penguatan yang terjadi kali ini murni terjadi karena imbas pelantikan Donald Trump dan pidato pelantikannya yang tidak diterima publik.

Menurutnya kondisi itu membuat posisi dollar AS semakin negatif sehingga investor bergerak untuk mencari aset yang lebih menguntungkan seperti komoditas logam industri dan aset safe haven. “Kenaikannya karena ada spekulatif buy. Apalagi dollar juga turun terus,” terangnya kepada KONTAN, Senin (23/1).

Sayang ia melihat peluang penguatan ini tidak akan berlangsung lama. Kata Andri ketika tiba libur Tahun Baru China (Imlek) pada Jumat (27/1) harga tembaga berpotensi mengalami koreksi dan cenderung bergerak sideways. Terhentinya perdagangan di negeri tirai bambu selama sekitar sepekan diyakini akan turut berimbas pada pergerakan harga tembaga.

“Kemungkinan tembaga baru kembali menguat setelah adanya rilis data manufaktur China pada 3 Februari. Kalau hasilnya positif, bisa kembali menguat,” tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×