kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   19.000   0,67%
  • USD/IDR 17.099   75,00   0,44%
  • IDX 6.967   -22,63   -0,32%
  • KOMPAS100 957   -7,96   -0,82%
  • LQ45 701   -6,38   -0,90%
  • ISSI 249   -0,30   -0,12%
  • IDX30 382   -5,94   -1,53%
  • IDXHIDIV20 472   -9,43   -1,96%
  • IDX80 108   -0,86   -0,79%
  • IDXV30 131   -2,02   -1,52%
  • IDXQ30 124   -2,26   -1,79%

Pendapatan Turun 4,4% di 2025, Cek Rekomendasi Saham Indocement (INTP)


Selasa, 07 April 2026 / 13:53 WIB
Pendapatan Turun 4,4% di 2025, Cek Rekomendasi Saham Indocement (INTP)
ILUSTRASI. Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) (Dok/INTP)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) menghadapi tekanan kinerja di tengah kenaikan biaya energi dan pelemahan nilai tukar rupiah. 

Pada tahun 2025, emiten semen ini mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 4,4% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp 17,7 triliun.

Analis OCBC Sekuritas, Budi Rustanto mengatakan, tekanan terhadap margin INTP masih akan berlanjut, meskipun perseroan telah melakukan penyesuaian harga.

INTP telah menaikkan harga sekitar 3% atau Rp 2.000 per karung di luar wilayah Jawa. INTP juga berencana menaikkan harga Rp 1.500-Rp 2.500 per karung di wilayah Jawa sebagai langkah menjaga margin. 

"Namun, kenaikan ini belum sepenuhnya mengimbangi harga batubara yang lebih tinggi dan pelemahan rupiah. Jika harga energi tetap tinggi dalam jangka menengah hingga panjang, tekanan margin kemungkinan akan terus berlanju," tulis Budi Rustanto dalam riset 6 April 2026. 

Baca Juga: Berisiko Ditendang dari MSCI, Saham Milik Prajogo Pangestu Malah Diborong Asing

Dari sisi volume, INTP diperkirakan tetap mengikuti permintaan pasar domestik sambil memperluas ekspor ke Bangladesh, Taiwan, dan Malaysia serta membidik pasar baru, termasuk Afrika Barat dan Brunei.

Budi memperkirakan permintaan semen domestik pada 2026 akan tumbuh moderat, di atas 1% YoY.

Pertumbuhan ini ditopang kebijakan moneter yang akomodatif, stimulus fiskal, perpanjangan insentif PPN 100% untuk sektor properti hingga 2027. Serta berlanjutnya proyek strategis nasional seperti program pembangunan 3 juta rumah, proyek MRT, jalan tol, dan infrastruktur lainnya.

Senada, Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi menilai prospek INTP pada kuartal II-2026 cenderung moderat dengan sejumlah sentimen utama seperti fluktuasi kurs rupiah, pergerakan harga energi, dan kecepatan realisasi proyek infrastruktur pemerintah. 

Menurut Wafi, langkah INTP menaikkan harga sudah tepat untuk menjaga margin, meskipun berisiko menggerus pangsa pasar. 

"Langkah lebih efektif jangka panjang, yaitu meningkatkan rasio penggunaan bahan bakar alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada batubara, dikombinasikan dengan efisiensi beban logistik," ujar Wafi kepada Kontan, Selasa (07/4/2026).

Ke depan, INTP juga dihadapkan pada tantangan struktural, mulai dari kondisi oversupply semen nasional, persaingan harga yang ketat, hingga tingginya suku bunga yang berpotensi menekan permintaan dari sektor properti ritel.

Wafi merekomendasikan buy saham INTP dengan target harga Rp 7.500 per saham. Sementara Budi juga memberikan rekomendasi buy saham INTP dengan target harga Rp 6.000 per saham ditopang neraca keuangan yang kuat dan prospek jangka panjang yang tetap terjaga.

Baca Juga: Prospek Indofood CBP (ICBP) 2026: Laba Berpotensi Melesat, Cek Rekomendasi Sahamnya

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×