Reporter: Rashif Usman | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA ) mencatat kinerja yang tertekan pada kuartal I-2026.
Penurunan pendapatan yang diiringi lonjakan beban membuat perseroan membukukan rugi yang jauh lebih dalam dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Berdasarkan laporan keuangan dikutip Kamis (16/4/2026), pendapatan usaha PJAA tercatat sebesar Rp 207,58 miliar pada kuartal I-2026, turun tipis 1,52% dari Rp 210,80 miliar pada kuartal I-2025.
Baca Juga: Harga Berfluktuasi, Investasi Emas Meningkat
Namun, penurunan pendapatan tersebut diikuti kenaikan beban yang signifikan. Beban pokok pendapatan dan beban langsung meningkat menjadi Rp 151,22 miliar, dibandingkan Rp 136,62 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kondisi ini menyebabkan laba bruto turun tajam menjadi Rp 56,35 miliar dari sebelumnya Rp 74,18 miliar.
Secara rinci, pendapatan usaha ditopang oleh segmen penjualan tiket sebesar Rp 126,13 miliar, hotel dan restoran Rp 15,85 miliar, serta pendapatan usaha lainnya Rp 66,22 miliar.
Dari sisi operasional, tekanan semakin terasa. Beban umum dan administrasi naik menjadi Rp 64,72 miliar dari Rp 59,44 miliar.
Sejalan dengan itu, total beban usaha meningkat menjadi Rp 70,74 miliar, dibandingkan Rp 56,77 miliar pada kuartal I-2025.
Baca Juga: Pendapatan dan Laba Bersih MSIN Kompak Tumbuh Double Digit di 2025
Alhasil, PJAA mencatat rugi usaha sebesar Rp 14,39 miliar, berbalik dari laba usaha Rp 17,41 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Di sisi lain, beban keuangan memang sedikit menurun menjadi Rp 16,90 miliar dari Rp 18,95 miliar. Namun, penurunan ini belum mampu menahan tekanan kinerja secara keseluruhan.
Setelah memperhitungkan seluruh komponen, PJAA membukukan rugi sebelum pajak sebesar Rp 36,77 miliar, membengkak dibandingkan rugi Rp 6,84 miliar pada kuartal I-2025.
Rugi bersih tahun berjalan pun meningkat signifikan menjadi Rp 38,43 miliar, dari sebelumnya Rp 11,32 miliar.
Dengan demikian, rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp 38,80 miliar, melonjak dari Rp 11,17 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Dari sisi neraca, total aset PJAA hingga akhir Maret 2026 tercatat sebesar Rp 3,52 triliun, turun dari posisi akhir 2025 sebesar Rp 3,63 triliun.
Baca Juga: Prajogo Pangestu Jual 531,67 Juta Saham Petrindo Jaya Kreasi (CUAN)
Liabilitas menurun menjadi Rp 1,7 triliun dari Rp 1,77 triliun, sementara ekuitas turun menjadi Rp 1,82 triliun dari Rp 1,86 triliun.
Sementara itu, saldo kas dan setara kas meningkat menjadi Rp 398,55 miliar, dibandingkan Rp 290,13 miliar pada akhir 2025.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













