kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.825.000   20.000   0,71%
  • USD/IDR 17.241   -67,00   -0,39%
  • IDX 7.129   -249,12   -3,38%
  • KOMPAS100 967   -37,26   -3,71%
  • LQ45 691   -25,11   -3,51%
  • ISSI 259   -8,46   -3,16%
  • IDX30 382   -11,34   -2,88%
  • IDXHIDIV20 471   -11,15   -2,31%
  • IDX80 108   -4,04   -3,60%
  • IDXV30 137   -2,36   -1,69%
  • IDXQ30 123   -3,19   -2,53%

Pelemahan Rupiah Mencerminkan Meningkatnya Risiko Domestik


Jumat, 24 April 2026 / 09:11 WIB
Pelemahan Rupiah Mencerminkan Meningkatnya Risiko Domestik
ILUSTRASI. Nilai Tukar Terlemah Sepanjang Sejarah (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesian Business Council (IBC) menilai nilai tukar rupiah mengalami tekanan yang lebih besar dibandingkan mata uang regional di tengah dinamika global yang relatif seragam. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik memang telah mendorong arus keluar modal dari pasar negara berkembang. 

“Namun, pelemahan rupiah, yang jauh melebihi rata-rata regional, menunjukkan bahwa faktor domestik juga memainkan peran penting,” ujar Denni Purbasari Chief Economist IBC dalam keterangan tertulisnya, Jumat (24/4/2026).  

Per tanggal 23 April 2026, indeks dolar AS (DXY) telah menguat sebesar 0,32% year-to-date (YTD). Mata uang Asia terdepresiasi rata-rata sekitar 0,31% YTD, relatif sejalan dengan tren global. Sebaliknya, rupiah melemah sebesar 3,59% YTD – menunjukkan risiko spesifik negara.

Baca Juga: Rupiah Ambruk Paling Dalam di Kawasan, Alarm Bahaya Pasar Keuangan

Tekanan pada rupiah ini juga tercermin di pasar keuangan domestik. Yield obligasi pemerintah 10 tahun naik 0,57% secara YTD, lebih tinggi dari rata-rata Asia (0,26%). Di pasar saham, IHSG telah terkoreksi sekitar 14% YTD, terburuk di kawasan ini, sementara pasar saham Asia telah naik sekitar 5,33%. 

Perkembangan ini menegaskan bahwa tekanan pada rupiah tidak dapat dijelaskan semata-mata oleh faktor global. Indonesia bahkan memiliki bantalan relatif sebagai pengekspor komoditas dan produsen sebagian kebutuhan energinya. Jika kinerjanya lebih buruk daripada negara lain, maka masalah domestik perlu ditangani. Sebab itu, Denni menekankan pentingnya respons kebijakan yang kredibel. 

Baca Juga: Terus Tertekan, Rupiah Diproyeksikan Sentuh Rp 18.000 di Akhir Semester I-2026

“Dalam jangka panjang, stabilitas nilai tukar berasal dari daya saing ekonomi nasional yang kuat relatif terhadap negara lain. Namun, dalam jangka pendek, pergerakan nilai tukar sangat ditentukan oleh arah kebijakan makro dan bagaimana kebijakan tersebut dikomunikasikan ke pasar,” jelas Denni. 

Denni melihat ke depannya, penguatan kepercayaan pasar akan menjadi kunci. Upaya untuk menanggapi berbagai catatan dari MSCI, Fitch Ratings, Moody’s, dan S&P Global Ratings mengenai kepastian kebijakan, tata kelola, dan reformasi struktural dapat menjadi langkah awal untuk mengubah persepsi risiko dalam perekonomian Indonesia.

Baca Juga: Rupiah Anjlok, IHSG Diproyeksikan Lanjut Melemah pada Perdagangan Jumat (24/4)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU

[X]
×