kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Pasokan minyak AS menjegal harga ke US$ 47


Rabu, 07 Juni 2017 / 13:40 WIB
Pasokan minyak AS menjegal harga ke US$ 47


Reporter: Sanny Cicilia | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Harga minyak mentah dunia masih merosot, Rabu (7/6), di tengah keretakan hubungan negara-negara teluk. Pasar khawatir, perselisihan negara Arab ini akan mengganggu komitmen mereka mengekang produksi minyak dunia di tengah kelimpahan pasokan. 

Mengutip Bloomberg, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli 2017 pukul 13:14 WIB, di posisi US$ 47,95 per barel. Harga minyak AS ini turun 0,5% dari kemarin di US$ 48,19 per barel. 

Harga minyak acuan internasional Brent juga meninggalkan US$ 50 per barel. Harga pengiriman Agustus 2017 menjadi US$ 49,93 per barel, dari posisi kemarin US$ 50,12 per barel. 

Di tengah kelimpahan pasokan, data industri AS menunjukkan cadangan bensin makin membengkak. Padahal, pasar sempat berekespektasi pada penurunan pasokan karena memasuki masa liburan musim panas. 

American Petroleum Institute (API) merilis data Selasa, bahwa cadangan bensin naik sebesar 4,08 juta barel sepanjang pekan lalu. Sementara cadangan minyak turun 4,62 juta barel.

Pemerintah AS lewat Energy Information Organization (EIA) baru akan mengumumkan data resmi mengenai pasokan minyak pada Rabu waktu setempat. 

Kelimpahan minyak di AS ini selama ini menjadi penjegal harga minyak beranjak ke atas US$ 50, sementara negara Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan aliansinya sepakat memangkas produksi minyak 1,8 juta barel hingga Maret 2018 untuk mendongkrak harga.

Perselisihan negara-negara Arab dikhawatirkan akan mengganggu komitmen OPEC yang dipimpin Arab Saudi untuk lebih memperhatikan harga minyak. Senin lalu, Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, dan Bahrain memutuskan untuk memutus hubungan diplomatik dengan Qatar dengan alasan Doha menyokong terorisme. Dengan produksi minyak 620.000 barel per hari, Qatar menjadi produsen minyak terkecil di antara negara OPEC. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×