Reporter: Vivit Dewi | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga batubara sempat menguat hingga menyentuh level tertinggi sejak September 2023 pada perdagangan Kamis (8/10/2026). Kenaikan harga batubara ditopang oleh gangguan pasokan LNG akibat konflik di Timur Tengah yang mendorong sejumlah negara kembali meningkatkan penggunaan batubara untuk pembangkit listrik.
Mengacu data Trading Economics pada Kamis (8/10/2026) pukul 14.47 WIB, harga batubara berada di US$ 150 per ton, turun 1,28% secara harian.
Sebelumnya, harga batubara sempat mencapai US$ 152 per ton sekitar pukul 05.00 WIB, menjadi level tertinggi sejak September 2023.
Meski terkoreksi secara harian, harga batubara masih menguat 2,56% dalam sepekan dan naik 1,80% dalam sebulan.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.915 Per Dolar AS Hari Ini (8/10), Asia Kompak Melemah
Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan menyebut, kenaikan harga batubara saat ini bukan sekadar didorong spekulasi pasar. Menurutnya, gangguan pasokan LNG telah mengubah kebutuhan energi sejumlah negara.
"Menurut saya, kenaikan ini bukan sekadar spekulasi, tetapi juga mencerminkan perubahan kebutuhan energi global ketika pasokan LNG terganggu dan sejumlah negara kembali meningkatkan penggunaan batubara untuk pembangkit listrik," kata Brahmantya kepada Kontan, Kamis (8/10/2026).
Gangguan pengiriman LNG membuat sejumlah negara seperti China, India, Jepang, Korea Selatan dan beberapa negara Eropa meningkatkan ketergantungan terhadap pembangkit listrik berbahan bakar batubara. Kondisi tersebut ikut menjaga permintaan batubara di pasar global.
Di sisi pasokan, kenaikan harga batubara juga mendapat dukungan dari terbatasnya produksi di sejumlah negara. Produksi domestik China menghadapi tekanan akibat inspeksi keselamatan tambang, sementara ketidakpastian pasokan Australia dan kebijakan ekspor Indonesia turut menjaga harga.
"Untuk batubara, kenaikan ke US$ 152 didorong oleh kombinasi permintaan energi dan keterbatasan pasokan," ujarnya.
Brahmantya membeberkan, berdasarkan data International Energy Agency (IEA), permintaan batubara global pada 2026 diperkirakan meningkat sekitar 1,2% menjadi 8,94 miliar ton. Permintaan tersebut sekaligus mencetak rekor baru.
Baca Juga: Ini 10 Unitlink Pendapatan Tetap yang Mencetak Return Tertinggi per September 2026
Melihat kondisi tersebut, Brahmantya memperkirakan harga batubara masih berpeluang menguat hingga akhir 2026. Harga diproyeksikan berada di kisaran US$ 155-US$ 165 per ton.
Ruang penguatan tersebut terbuka apabila harga LNG tetap tinggi, permintaan listrik di Asia meningkat dan pasokan dari China maupun Australia masih terbatas. Harga batubara juga berpotensi menguji US$ 160-US$ 165 per ton jika gangguan pasokan energi global berlanjut.
Namun, pergerakan harga tetap menghadapi risiko koreksi apabila pasokan LNG kembali normal. Kondisi tersebut dapat mengurangi kebutuhan pembangkit listrik berbahan bakar batubara dan menekan permintaan di pasar global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














