Reporter: Maggie Quesada Sukiwan | Editor: Havid Vebri
JAKARTA. Adanya potensi pengurangan suplai di pasar menyokong harga tembaga.
Mengacu Bloomberg pada Jumat (18/12), harga tembaga untuk kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) tercatat naik 3,08% ketimbang hari sebelumnya menjadi US$ 4.685 per metrik ton.
Namun, dalam sepekan, harga tembaga masih terkoreksi 0,38%.
Pengamat Komoditas PT SoeGee Futures Ibrahim menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyokong harga tembaga akhir pekan lalu.
Pertama, keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) alias The Fed mengerek suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 0,25% - 0,5% pada pertemuan 15 Desember 2015 - 16 Desember 2015.
Aksi tersebut menghilangkan ketidakpastian yang selama hampir dua tahun mendera harga tembaga. Sebab, penguatan indeks dollar AS kerap menggerus permintaan tembaga yang diperdagangkan dalam mata uang Negeri Paman Sam yang kian mahal.
Namun, pada Jumat (18/12), indeks dollar AS sudah melemah 0,57% dibandingkan hari sebelumnya ke level 98,703. Kondisi ini pun meningkatkan permintaan tembaga karena sedang murah.
"Eskpektasi para analis The Fed akan menaikkan suku bunga hingga 100 bps, kenyataan hanya 0,25%. Mengindikasikan indeks dollar turun," jelasnya.
Kedua, peningkatan kebutuhan tembaga jelang akhir tahun 2015. Pemerintah memang menggenjot penyelesaian program-program pembangunan infrastruktur jelang penutupan tahun.
Maklum, tembaga merupakan bahan campuran untuk bangunan, properti, baja ringan, kabel, dan sebagainya.
Ketiga, para produsen tembaga China berjanji untuk memangkas produksi sebesar 350.000 metrik ton pada tahun 2016. Angka ini setara dengan 4,4% dari total produksi tembaga negara tersebut pada tahun 2014.
Berkurangnya potensi suplai tembaga di pasar mengangkat harga komoditas ini. Laporan Commerzbank AG akhir pekan lalu menyatakan bahwa banyak produsen tembaga yang sudah tak mampu menutup biaya produksi dengan harga tembaga saat ini.
Keempat, rilis data perubahan harga barang dan jasa yang dibeli oleh konsumen China (Consumer Price Index ) per November 2015 yang tercatat 1,5% (yoy).
Angka tersebut lebih baik dibandingkan konsensus yang dipatok 1,4% (yoy) dan pencapaian Oktober 2015 sebesar 1,3% (yoy).
Maklum, China merupakan pengguna sekaligus produsen tembaga terbesar di dunia. Sentimen positif dari Negeri Tirai Bambu juga menyokong harga tembaga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













