Reporter: Vivit Dewi | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja reksadana sepanjang September 2026 bergerak tidak seragam di tengah tekanan pasar saham.
Reksadana pasar uang masih mampu membukukan pertumbuhan, sedangkan reksadana pendapatan tetap relatif stabil. Di sisi lain, reksadana saham dan campuran ikut terkoreksi, meski penurunannya masih lebih kecil dibandingkan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Berdasarkan data Infovesta per 30 September 2026, secara month-on-month (MoM), Indeks Reksadana Saham turun 5,47% dan Indeks Reksadana Campuran melemah 2,62% sepanjang September 2026.
Koreksi kedua jenis reksadana tersebut masih lebih rendah dibandingkan penurunan IHSG yang mencapai 6,96% pada periode yang sama.
Sementara itu, Indeks Reksadana Pendapatan Tetap mencatatkan kinerja 0%, sedangkan Indeks Reksadana Pasar Uang tumbuh 0,42%.
Baca Juga: Bitcoin dan Ethereum Kompak Naik, Ini Proyeksi Harganya hingga Akhir 2026
Jika dilihat secara year-to-date (YtD) hingga September 2026, tekanan pasar saham masih terlihat cukup besar. IHSG tercatat turun 29,79%. Pada periode yang sama, Indeks Reksadana Saham melemah 16,43%, sedangkan Indeks Reksadana Campuran turun 7,37%.
Di tengah tekanan tersebut, Indeks Reksadana Pendapatan Tetap masih mampu mencatatkan kenaikan tipis 0,07%. Adapun Indeks Reksadana Pasar Uang menjadi salah satu yang mencatatkan pertumbuhan lebih tinggi dengan kenaikan 3,16%.
Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi Riawan mengatakan, kondisi pasar yang masih berubah-ubah membuat pengelolaan portofolio perlu tetap fleksibel.
"Di tengah dinamika pasar yang masih dipengaruhi oleh sentimen global maupun domestik, diversifikasi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga ketahanan portofolio," ujar Reza kepada Kontan, Jumat (2/10/2026).
Strategi investasi reksadana kuartal IV 2026
Memasuki kuartal IV 2026, Reza melihat peluang investasi masih tersedia di sejumlah kelas aset. Bagi investor dengan horizon investasi pendek, reksadana pasar uang dapat menjadi alternatif.
Sementara itu, reksadana pendapatan tetap dapat dipertimbangkan untuk kebutuhan investasi dengan horizon menengah, dengan tetap memperhatikan risiko suku bunga dan kredit.
"Untuk investor dengan horizon lebih panjang dan toleransi risiko yang lebih tinggi, reksadana saham tetap memiliki daya tarik karena memberikan kesempatan untuk menangkap potensi pertumbuhan pasar dalam jangka panjang," kata Reza.
Baca Juga: IHSG Terkoreksi 3,28% dalam Sepekan, Waspadai Tekanan dari Yield UST
Pandangan serupa disampaikan Direktur Infovesta Utama, Wawan Hendrayana. Menurut dia, pemilihan produk reksadana juga perlu disesuaikan dengan kapan dana investasi tersebut akan digunakan.
Untuk kebutuhan dana kurang dari satu tahun, Wawan mengarahkan investor pada instrumen pasar uang. Sementara untuk kebutuhan dengan jangka waktu satu hingga tiga tahun, reksadana pendapatan tetap dapat mulai dikumpulkan secara bertahap.
"Kalau untuk satu sampai tiga tahun, pendapatan tetap mulai menarik diakumulasi bertahap, terutama yang berdurasi pendek atau berbasis obligasi korporasi," kata Wawan.
Adapun bagi investor dengan horizon investasi lebih dari lima tahun, Wawan menyebut koreksi di pasar saham dapat menjadi momentum untuk melakukan akumulasi secara bertahap.
Ia juga mengingatkan investor agar tidak terburu-buru melakukan panic selling ketika pasar mengalami koreksi.
Dengan demikian, hingga akhir 2026, reksadana pasar uang dan pendapatan tetap masih dapat dipertimbangkan untuk kebutuhan investasi jangka pendek hingga menengah.
Sementara itu, reksadana saham lebih ditujukan bagi investor yang memiliki horizon investasi panjang dan mampu menghadapi fluktuasi pasar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














