Reporter: Vivit Dewi | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam tekanan sepanjang perdagangan pekan ini. Tekanan jual yang meningkat membuat IHSG mencatat koreksi 3,28% secara mingguan, meski ditutup menguat pada perdagangan terakhir pekan ini.
Pada akhir perdagangan Jumat (2/10/2026), IHSG ditutup menguat 27,39 poin atau 0,46% ke level 6.036,89.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, tekanan terhadap IHSG sepanjang pekan tidak terlepas dari kenaikan imbal hasil US Treasury (UST). Yield UST tenor 10 tahun sempat mencapai 5,3%, level tertinggi sejak 2002.
Baca Juga: Dolar AS Perkasa, Analis Ungkap Prospek Yen Jepang dan Franc Swiss
"Selama sepekan ini, IHSG terkoreksi 3,28% dan masih didominasi oleh tekanan jual yang relatif meningkat. Dari sisi sentimen, kami perkirakan antara lain adanya kenaikan dari yield UST yang sempat mencapai 5,3% untuk 10Y, tertinggi sejak 2002," kata Herditya kepada Kontan, Jumat (2/10/2026).
Kenaikan yield UST tersebut turut menekan pasar negara berkembang (emerging market/EM), terutama melalui tekanan terhadap nilai tukar. Di Indonesia, rupiah menjadi salah satu mata uang yang ikut terdampak. Kondisi tersebut juga berpotensi mendorong arus dana keluar karena investor asing mulai mengurangi risiko terhadap aset Indonesia.
Di dalam negeri, penerapan kebijakan batas bawah harga saham Rp 1 juga menjadi salah satu perhatian. Kebijakan tersebut dinilai dapat meningkatkan likuiditas, tetapi sekaligus meningkatkan volatilitas perdagangan.
Untuk pekan depan, Herditya memperkirakan IHSG masih rawan melanjutkan koreksi. Ia menempatkan level support di 5.839 dan resistance di 6.212.
"Kalau untuk sentimen, antara lain reaksi pasar akan rilis NFP AS pada malam nanti. Apabila rilisnya menguat maka akan meningkatkan kembali kekhawatiran akan hawkish The Fed," ujarnya.
Menurut Herditya, kebijakan The Fed yang lebih hawkish dapat kembali mendorong kenaikan yield UST dan memperkuat dolar AS secara global. Selain itu, pasar juga masih mencermati harga minyak dunia di tengah negosiasi yang berlangsung antara AS dan Iran.
"Apabila hawkishnya The Fed maka diperkirakan akan meningkatkan kembali yield UST dan akan kembali menguatkan nilai tukar Dolar secara global. Pasar tetap mencermati harga minyak dunia dengan negosiasi yang masih berjalan antara AS-Iran," kata Herditya.
Adapun untuk saham yang dapat dicermati pada pekan depan, Herditya menyebut GGRM dengan kisaran 17.575-18.250, ISAT di 2.400-2.480, dan NCKL pada 880-905.
Baca Juga: Futura Energi Global (FUTR) Serok Aset ADHI Senilai Rp 141 Miliar
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














