Reporter: Alya Fathinah | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan pasar obligasi pemerintah masih cenderung terbatas di tengah dinamika global dan tekanan domestik.
Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 5 tahun tercatat berada di level 6,29% pada perdagangan Selasa (21/4/2026), relatif stabil dibandingkan posisi sepekan lalu di kisaran 6,34%.
Di sisi lain, indikator risiko menunjukkan perbaikan. Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun melandai dalam sepekan terakhir ke level 81,52 atau turun 4,38% dibandingkan minggu sebelumnya.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Menguat Terbatas pada Rabu (22/4), Cek Rekomendasi Analis Berikut
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy, menilai penurunan CDS dari kisaran 85 ke 81 lebih mencerminkan perbaikan persepsi risiko kredit Indonesia di mata investor global dengan faktor pendorong didominasi eksternal.
"Yield US Treasury mulai melandai dan ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed di paruh kedua tahun ini kembali terbentuk. Dalam kondisi seperti itu, aset emerging markets cenderung mendapat ruang napas, dan CDS ikut menyempit," ujar Yusuf kepada Kontan, Selasa (21/4/2026).
Adapun, pergerakan yield SBN tenor 5 tahun dipengaruhi faktor yang berbeda. Menurut dia, faktor yang mempengaruhi pergerakan yield adalah kombinasi tekanan nilai tukar rupiah, ekspektasi suku bunga domestik, dan kebutuhan pembiayaan fiskal.
Dari sisi valuasi, apabila terjadi kenaikan yield akan membuat SBN relatif lebih menarik.
Spread terhadap US Treasury masih cukup lebar dan real yield Indonesia kompetitif di kawasan. Namun, daya tarik ini tidak berdiri sendiri karena risiko nilai tukar tetap menjadi faktor kunci.
Baca Juga: Matahari (LPPF) Ubah Nama Jadi MDS Retailing, Perkuat Strategi Ritel Multi Konsep
Jika tekanan terhadap rupiah berlanjut, imbal hasil dalam dolar berpotensi tergerus. Karena itu, SBN dinilai lebih menarik bagi investor domestik yang tidak terpapar risiko kurs, sementara investor asing masih cenderung selektif.
Untuk jangka pendek, Yusuf memperkirakan arah yield SBN sangat bergantung pada stabilitas rupiah dan dinamika global.
Selama rupiah belum stabil dan arah kebijakan The Fed belum jelas, yield berpotensi bergerak dalam rentang lebar dengan volatilitas yang tinggi.
Tekanan dari sisi fiskal juga dinilai belum sepenuhnya mereda, terutama terkait kebutuhan pembiayaan yang besar tahun ini.
Artinya, ruang penurunan yield masih ada, tetapi terbatas dan tidak akan terjadi secara linier.
Baca Juga: Mitratel (MTEL) Mau Tambah Lini Bisnis Untuk Perkuat PaaS, Intip Rekomendasi Sahamnya
Yusuf memproyeksikan yield SBN 10 tahun dalam jangka pendek akan berada di kisaran 6,58–6,61% dan sudah naik lebih dari 50 bps sejak awal tahun, menunjukkan bahwa pasar masih meminta premi risiko yang lebih tinggi.
Sementara itu, untuk tenor 5 tahun di kisaran 6,1–6,4%, kurva masih relatif curam, menandakan ketidakpastian jangka menengah belum sepenuhnya hilang.
Ini penting, karena artinya pasar belum benar-benar nyaman, meskipun tidak sedang dalam fase stres.
Ke depan, ruang penurunan yield memang ada, tapi terbatas.
Skenario yang lebih realistis saat ini adalah pergerakan dalam rentang yang cukup lebar dengan kecenderungan sideways karena faktor penentunya belum benar-benar sinkron.
Jika rupiah bisa stabil dan arah kebijakan The Fed mulai jelas lebih longgar, yield bisa turun secara bertahap.
Namun, apabila dolar AS tetap kuat dan tekanan eksternal berlanjut, yield justru bisa bertahan tinggi atau bahkan naik ke kisaran atas proyeksi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













