kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Pasar minyak jenuh, harga kian luruh


Senin, 07 Desember 2015 / 10:50 WIB
Pasar minyak jenuh, harga kian luruh


Reporter: Namira Daufina | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Masih terus menukiknya harga minyak di perdagangan awal pekan ini disinyalir terbawa efek dari keputusan OPEC untuk mempertahankan produksinya. Desember disinyalir sebagai arah pergerakan minyak yang kian bearish.

Mengutip Bloomberg, Senin (7/12) pukul 10.20 WIB harga minyak kontrak pengiriman Januari 2016 di New York Mercantile Exchange kembali merosot 1,03% ke level US$ 39,56 per barel dibanding hari sebelumnya.

“Harga minyak tenggelam dalam kejenuhan pasar,” kata Jameel Ahmad, Kepala Analis Forextime dalam rilisnya, Senin (7/12).

Kejenuhan pasar ini timbul dari belum adanya harapan mengeringnya pasokan minyak mentah di pasar global paling tidak hingga Juni 2016 mendatang.

Pasalnya, dalam pertemuan di Wina, Austria Jumat (4/12) lalu, OPEC memberi sinyal akan melakukan penyesuaian produksi pada pertemuan di paruh pertama 2016 mendatang. Selama menanti itu, produksi OPEC diprediksi bisa berada di kisaran 30 juta – 31,5 juta barel. Yang memang selama 18 bulan terakhir OPEC sudah memompa pasokan lebih dari 30 juta barel yang ditargetkan pada November 2014 lalu.

Nizar Hilmy, Analis SoeGee Futures menanggapi hal ini sebagai sinyal bearish yang dipertegas. Sulit mengharapkan harga terangkat dengan kenyataan fundamental seperti yang terjadi saat ini.

“Tidak menutup kemungkinan hingga akhir tahun 2015 nanti harga hanya akan bergulir di kisaran US$ 37 – US$ 39 per barel,” prediksi Nizar.

Kalaupun nantinya ada sentimen positif dari misalnya penundaan suku bunga The Fed, itu tidak akan membawa harga melewati level US$ 45 per barel. “Sebab itu hanya akan mengangkat sesaat, sebelum pasar kembali pada pasokan yang berlimpah,” jabar Nizar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×