kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Pasar menanti hasil rapat The Fed


Rabu, 01 Februari 2017 / 11:02 WIB
Pasar menanti hasil rapat The Fed


Reporter: Narita Indrastiti | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam jangka pendek akan banyak terpengaruh pada kebijakan pasar Amerika Serikat (AS). Pasar akan menantikan hasil Federal Open Market Committee (FOMC) meeting, yang digelar pada awal Februari ini.

Di awal pekan ini, pasar mulai terlihat berhati-hati menanggapi kebijakan-kebijakan Presiden baru AS, Donald Trump, yang agresif. Salah satunya adalah larangan masuk ke AS bagi warga dari tujuh negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

IHSG terkoreksi 0,16% pada hari terakhir perdagangan bulan Januari. Investor asing kembali mencatatkan aksi jual Rp 405,8 miliar. Tapi, secara year to date, IHSG hanya terkoreksi 0,05%.

Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri, mengatakan, sebelumnya ada optimisme pasar bahwa kebijakan Trump akan ramah bisnis. Tapi, begitu Trump mengeluarkan aturan ekstrem dengan membatasi kunjungan dari tujuh negara, muncul kekhawatiran baru di pasar.

Hal ini membuat investor mengkaji ulang arah kebijakan Trump dalam jangka panjang. Trump pun telah menarik AS dari kerjasama Trans Pacific Partnership (TPP).

Di sisi lain, kebijakan moneter AS diprediksi belum berubah pasca rapat FOMC edisi pertama tahun ini. The Fed diprediksi belum akan menaikkan suku bunga kuartal ini.

"Pernyataan The Fed akan datar. Kami memprediksi The Fed menyampaikan tentang kondisi ekonomi yang cukup bagus dan memang akan semakin dekat mengarah ke pernyataan menaikkan suku bunga di tengah tahun," kata Hans.

Karena itulah dalam jangka pendek ini, pasar diperkirakan akan cenderung menahan diri alias wait and see. Outflow dana asing yang terjadi dalam dua hari ini menunjukkan adanya kekhawatiran pasar yang ditimbulkan dari pengaruh global.

Namun, saat pasar saham negara lain turun tajam, IHSG cenderung terlihat lebih kokoh dan hanya mengalami koreksi tipis. Hans bilang, ini karena daya tahan ekonomi dalam negeri cukup kuat, dengan inflasi yang diperkirakan masih terkendali dan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari tahun lalu.

Kim Kwie Sjamsudin, Kepala Riset Yuanta Securities, mengatakan, pada Januari hingga Februari, pasar akan cenderung flat karena tak banyak sentimen berarti dari dalam negeri. "Belum ada katalis yang akan mendorong pasar secara signifikan. Sehingga, banyak yang masih menahan diri," ujar Kim.

Ia justru menilai, dampak dari kebijakan Trump hanya akan bersifat sementara ke pasar saham Tanah Air. Ketidakpastian justru datang dari dalam negeri, terutama terkait sentimen politik domestik. "Selain mencermati faktor politik Indonesia, investor juga memperhatikan realisasi kebijakan amnesti pajak," imbuh Kim.

Kim menilai, trading range pasar dalam jangka pendek tidak akan terlalu jauh dari level saat ini. Prediksinya, IHSG akan mulai bergerak positif pada kuartal dua tahun ini, terutama setelah rilis laporan keuangan emiten.

Menurut Hans, konsolidasi IHSG justru menjadi peluang untuk akumulasi beli. Dia memperkirakan IHSG akan bergerak dengan support 5.267 dan resistance 5.331 untuk jangka pendek.

Volatilitas pasar global akan membuat IHSG juga volatile. Hal ini menjadi peluang untuk akumulasi beli jika pasar terkoreksi. Sementara jika pasar menguat cukup banyak, pelaku pasar bisa melakukan trading sell.

Volatilitas ini bisa dimanfaatkan untuk membeli saham-saham yang masih menarik dalam jangka pendek, seperti saham Grup Bakrie, misalnya BUMI, ENRG, BRMS dan ELTY. Saham-saham Grup Bakrie banyak terdorong oleh sentimen penguatan harga komoditas dan restrukturisasi utang.

Selain itu, Hans merekomendasikan saham-saham konstruksi dan perbankan blue chips seperti PTPP, BBNI, BBRI dan BBCA. Kim lebih menjagokan saham blue chips seperti TLKM, UNVR dan ASII untuk bahan pertimbangan pelaku pasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×