kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.045.000   -77.000   -2,47%
  • USD/IDR 16.919   17,00   0,10%
  • IDX 7.577   -362,70   -4,57%
  • KOMPAS100 1.058   -52,77   -4,75%
  • LQ45 772   -33,15   -4,11%
  • ISSI 268   -15,46   -5,46%
  • IDX30 410   -16,83   -3,94%
  • IDXHIDIV20 502   -16,39   -3,16%
  • IDX80 119   -5,62   -4,51%
  • IDXV30 136   -4,86   -3,45%
  • IDXQ30 132   -4,99   -3,63%

Outlook Negatif Fitch jadi Sorotan, Rupiah Kian Melemah Dekati Rp 17.000


Rabu, 04 Maret 2026 / 14:46 WIB
Outlook Negatif Fitch jadi Sorotan, Rupiah Kian Melemah Dekati Rp 17.000


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah kian tertekan mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (4/3/2026).

Ekonom menilai pelemahan ini dipicu kombinasi sentimen global dan domestik yang masih membayangi pasar.

Di pasar spot, rupiah dibuka melemah pada perdagangan Rabu (4/3/2026) pagi. Posisi rupiah pun terus melemah 0,35% ke Rp 16.931 per dolar AS pada tengah hari.

Jelang penutupan pun rupiah masih melemah tipis 0,08% ke Rp 16.886 pr dolar AS pada pukul 14.42 WIB.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, tekanan terhadap rupiah saat ini terakhir terutama dipicu dua faktor utama.

Baca Juga: Kirim Emas Perdana dari Pani, Simak Rekomendasi Saham Merdeka Gold Resources (EMAS)

Pertama, eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang mendorong kenaikan harga minyak dunia. Kondisi ini dinilai negatif bagi Indonesia yang masih berstatus net importer minyak.

Faktor kedua yang dinilai lebih dominan adalah penurunan outlook rating Indonesia oleh Fitch Ratings. Asal tahu saja, lembaga pemeringkat kredit internasional ini menurunkan outlook atau prospek peringkat kredit utang pemerintah Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil, meski tetap mempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia di level BBB.

Berdasarkan draft yang beredar Rabu (4/3/2026) Fitch menilai perubahan outlook tersebut berkaitan dengan meningkatnya ketidakpastian kebijakan pemerintah dalam mengelola fiskal dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Penurunan kali ini disebabkan karena dua faktor utama. Faktor kedua lebih berpengaruh,” ujar Wijayanto saat dihubungi Kontan, Rabu (4/2/2026).

Melihat kondisi ini, Wijayanto mengatakan peluang rupiah menembus level Rp 17.000 per dolar AS dalam waktu dekat masih terbuka, namun sangat bergantung pada respons kebijakan Bank Indonesia (BI).

Menurut dia, BI sebenarnya memiliki ruang untuk melakukan intervensi agresif guna menjaga rupiah tetap di bawah level psikologis tersebut.

“Tergantung strategi BI, bisa saja BI intervensi habis-habisan untuk menjaga rupiah di bawah Rp 17.000 per dolar AS,” jelasnya.

Baca Juga: Arah IHSG Hingga Akhir Kuartal I-2026 Dipengaruhi oleh Sentimen Ini

Namun demikian, Ia menilai BI perlu menjaga kecukupan cadangan devisa (cadev) agar tetap kuat menghadapi potensi tekanan terhadap rupiah yang berkepanjangan.

“Dugaan saya BI akan lebih rasional dan hati-hati mengingat tekanan terhadap rupiah akan berlangsung cukup lama. Cadangan devisa harus dijaga,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×