Reporter: Dupla Kartini, Bloomberg | Editor: Dupla Kartini
JAKARTA. Rupiah tergerus untuk hari yang kedua, setelah investor asing mengurangi kepemilikan di aset domestik. Kekhawatiran terhadap krisis utang Eropa menyebabkan surutnya permintaan pada aset negara berkembang yang berisiko tinggi.
Mata uang Garuda ini melemah 0,1% ke level Rp 8.906 per dollar AS pada pukul 16.14 di Jakarta. Otor rupiah ini sudah tergerus 2,9% sepanjang September. Ini pelemahan terbesar sejak Februari 2009.
Hari ini, pasar saham regional yang tercermin dari indeks MSCI Asia Pasifik pun jatuh. Pemicunya, yaitu kabar menteri keuangan Eropa yang menarik kembali keputusan peluncuran pinjaman untuk Yunani senilai 8 miliar euro hingga 13 Oktober. Investor asing tercatat menjual saham domestik sebesar US$ 60 juta, lebih besar dari jumlah yang mereka beli, kemarin.
Namun, pelemahan rupiah sedikit mereda dibandingkan perdagangan pagi. Pasalnya, pasar berspekulasi Bank Indonesia akan tetap berada di pasar untuk menstabilkan rupiah.
Analis mata uang dari PT Commonwealth Bank menyebut, kemungkinan default di Yunani dan prospek suram ekonomi global sekarang menjadi kekhawatiran utama di pasar. "Investor global taking profit di pasar negara berkembang, dan lebih memegang aset dollar," ujarnya, hari ini, di Jakarta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News