kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Obligasi korporasi dinilai berpotensi beri return 8% pada tahun ini


Rabu, 17 Februari 2021 / 21:15 WIB
ILUSTRASI. Aktivitas karyawan yang memantau perdagangan obligasi atau surat utang di dealing room Bank BRI di Jakarta, Selasa (12/8). Kompas/Iwan Setiyawan (SET) 12-08-2014


Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: Tendi Mahadi

Wawan juga mengingatkan, karena obligasi korporasi cenderung sulit untuk dijual, sebaiknya dimiliki hingga tanggal jatuh tempo obligasi tersebut. 

Sehingga, sudah jadi keharusan untuk mengetahui fundamental atau kinerja bisnis perusahaan penerbit, siapa pemiliknya, hingga kondisi likuiditas perusahaan. "Selama faktor-faktor tersebut bisa diimbangi, maka risiko default dan risiko likuiditas bisa dihindari ke depan," tekannya. 

Baca Juga: Penjualan ORI019 tembus Rp 25 triliun, target penjualan midis terlampaui

Melihat prospek yang lebih positif pada program vaksinasi Covid-19 dan harapan pemulihan ekonomi di 2021, Wawan meyakini minat investor akan obligasi korporasi masih akan mengalami peningkatan. Bahkan Wawan juga melihat peluang bagi INDOBeXC-TR obligasi korporasi untuk menyentuh level tertinggi baru. 

Adapun untuk potensi return obligasi korporasi tahun ini diperkirakan berada di kisaran 8% untuk obligasi dengan rating A. Sedangkan untuk rating AAA diprediksi mampu memberikan imbal hasil sekitar 7%. Sedangkan untuk diversifikasi, Wawan cenderung lebih merekomendasikan obligasi pemerintah dengan risiko default yang rendah. 

"Untuk obligasi korporasi, BUMN lebih prudent, sedangkan swasta bisa lihat dari bisnisnya, kalau aman dari pandemi, oke. Bidangnya bisa keuangan, farmasi, consumer goods, telkom dan tower atau menara. Sedangkan sektor jasa, risikonya cenderung masih tinggi," tandasnya.

Selanjutnya: Harga emas kembali terkoreksi, dipicu kenaikan yield obligasi global

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×