kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.818.000   -42.000   -1,47%
  • USD/IDR 17.140   26,00   0,15%
  • IDX 7.493   34,24   0,46%
  • KOMPAS100 1.036   6,95   0,67%
  • LQ45 746   -0,65   -0,09%
  • ISSI 271   2,08   0,77%
  • IDX30 400   -0,73   -0,18%
  • IDXHIDIV20 486   -4,36   -0,89%
  • IDX80 116   0,49   0,43%
  • IDXV30 135   -0,15   -0,11%
  • IDXQ30 128   -1,20   -0,93%

Negosiasi AS-Iran Gagal, Rupiah Melemah dan Risiko Defisit APBN Melebar


Senin, 13 April 2026 / 11:22 WIB
Negosiasi AS-Iran Gagal, Rupiah Melemah dan Risiko Defisit APBN Melebar
ILUSTRASI. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. (AFP/BAY ISMOYO)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dimediasi Pakistan pada Minggu (12/4) dilaporkan menemui jalan buntu. 

Kondisi ini meningkatkan risiko eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, termasuk potensi kembali terganggunya jalur distribusi energi global melalui Selat Hormuz. Tekanan geopolitik tersebut mulai tercermin pada pergerakan nilai tukar rupiah. 

Melansir data Bloomberg, Senin (13/4) pukul 10.46 WIB, rupiah berada di level Rp 17.123 per dolar AS, dengan pelemahan sempat menyentuh Rp 17.140 per dolar AS pada perdagangan intraday.

Baca Juga: IHSG Menguat, IPOT Sarankan Trading Selektif di Tengah Ketidakpastian

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi menilai, apabila tensi konflik AS-Iran kembali meningkat, rupiah berpotensi tertekan hingga menyentuh Rp 17.400 per dolar AS dalam waktu dekat, khususnya sepanjang April 2026.

Ia menjelaskan, tekanan terhadap rupiah tidak lepas dari gangguan pasokan energi. Sejumlah kapal tanker minyak Indonesia dilaporkan masih tertahan di Selat Hormuz, sehingga pemerintah perlu mencari sumber pasokan alternatif, termasuk dari Rusia dan AS.

Kondisi ini berpotensi meningkatkan kebutuhan impor energi dalam denominasi dolar AS, yang pada akhirnya menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

“Oleh karena itu berarti pemerintah harus mengimpor minyak yang cukup besar dengan dolar yang cukup besar,” ujar Ibrahim, Senin (13/4).

Di sisi fiskal, asumsi nilai tukar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dipatok sebesar Rp 16.500 per dolar AS dinilai semakin tidak relevan dengan kondisi terkini. Tanpa penyesuaian, risiko pelebaran defisit anggaran akan meningkat.

Ibrahim menambahkan, Bank Indonesia telah melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar. Namun, ia menekankan pentingnya kesiapan pemerintah dalam mengantisipasi dampak lanjutan, terutama dari sisi teknis pengelolaan pasokan energi dan kebutuhan devisa.

Baca Juga: Rupiah Dibuka Anjlok ke Rp 17.124 Per Dolar AS Hari Ini (13/4), Rekor Terburuk Lagi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×