kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   2.000   0,08%
  • USD/IDR 18.065   31,00   0,17%
  • IDX 4.923   -261,80   -5,05%
  • KOMPAS100 619   -38,45   -5,84%
  • LQ45 479   -29,62   -5,82%
  • ISSI 170   -9,33   -5,20%
  • IDX30 267   -16,34   -5,76%
  • IDXHIDIV20 348   -18,32   -5,00%
  • IDX80 71   -4,38   -5,81%
  • IDXV30 98   -4,17   -4,08%
  • IDXQ30 88   -5,25   -5,64%

Harga WTI Melaju Lebih Kencang dari Brent, Permintaan Minyak AS Jadi Penopang


Senin, 19 Oktober 2026 / 05:15 WIB
Harga WTI Melaju Lebih Kencang dari Brent, Permintaan Minyak AS Jadi Penopang
ILUSTRASI. Harga minyak WTI melonjak 10,4% sepanjang pekan lalu. Realisasi tersebut lebih tinggi dari harga minyak Brent yang naik 4,9% sepekan (REUTERS/Eli Hartman)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melaju lebih kencang dibandingkan Brent sepanjang pekan lalu. Penguatan tersebut tidak hanya mencerminkan kondisi pasar minyak global, tetapi juga ditopang oleh pengetatan pasokan dan meningkatnya kebutuhan minyak mentah di Amerika Serikat (AS).

Jumat (16/10/2026) harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Desember 2026 ditutup naik US$ 3,94 atau 3,7% menjadi US$ 109,86 per barel, level tertinggi sejak 19 Mei 2026.

Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman November 2026 ditutup naik US$ 3,44 atau 3,5% menjadi US$ 101,41 per barel. Ini jadi level tertinggi sejak 17 September 2026.

Sepanjang pekan ini, harga Brent mencatatkan kenaikan sebesar 4,9%, sedangkan WTI melonjak 10,4%.

Baca Juga: OJK dan SRO Gelar Dialog dengan Pelaku Pasar Modal Soal Reformasi Bursa

Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan, penguatan WTI yang lebih tinggi berkaitan dengan kondisi pasokan fisik dan permintaan di pasar domestik AS. Penurunan persediaan di pusat distribusi minyak WTI, Cushing, Oklahoma, dapat membuat harga berjangka merespons lebih cepat terhadap pengetatan pasokan.

Selain itu, aktivitas kilang AS yang tinggi menjelang peralihan musim dingin turut menyerap pasokan minyak mentah domestik. Permintaan dari pembeli luar negeri juga berpotensi bertambah ketika kilang di Eropa dan Asia mencari alternatif pasokan minyak mentah di tengah ketidakpastian pengiriman dari Timur Tengah.

Wahyu bilang, peningkatan permintaan terhadap minyak mentah AS dapat memberikan dorongan tambahan bagi WTI, sementara Brent menghadapi hambatan kenaikan setelah lebih dahulu diperdagangkan pada level tinggi.

“Penurunan cadangan di hub utama pengiriman WTI di Cushing menciptakan tekanan beli fisik jangka pendek (short-term supply tightness). Ketika stok di hub fisik menyusut, harga berjangka WTI bereaksi jauh lebih cepat dan tajam,” ujar Wahyu kepada Kontan, Jumat (16/10/2026).

Baca Juga: BEI Klaim Fundamental Pasar Modal Masih Solid

Di sisi lain, Wahyu menyebut harga Brent yang telah berada di atas US$ 100 per barel membuat ruang penguatannya relatif lebih terbatas. Pasar mulai memperhitungkan risiko penurunan permintaan apabila harga energi terus meningkat, sehingga kenaikan harga Brent tidak selalu seagresif WTI.

“Di area harga tersebut, Brent menghadapi resistensi kuat dan kekhawatiran pelemahan daya serap industri (demand destruction), sehingga ruang apresiasi tambahannya lebih terbatas dibandingkan WTI yang mengejar ketertinggalan (catch-up rally),” jelasnya.

Hingga akhir 2026, Wahyu memperkirakan, harga WTI bergerak di kisaran US$ 75-US$ 105 per barel, sedangkan Brent berada di rentang US$ 80-US$ 110 per barel.

Namun, perkembangan permintaan, kondisi pasokan fisik, dan dinamika pasar energi AS tetap dapat memengaruhi pergerakan kedua acuan minyak tersebut. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×