Reporter: Yasmine Awalia | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih dibayangi tekanan di tengah ketidakpastian sentimen global dan penantian pelaku pasar terhadap pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait Indonesia.
Investor disarankan mencermati arah pergerakan indeks dan menunggu sinyal pembalikan tren sebelum mengambil keputusan investasi.
Pada perdagangan Selasa (13/10/2026), IHSG ditutup melemah 0,17% ke level 5.925,98. Pelaku pasar masih perlu mewaspadai potensi tekanan lanjutan, meski peluang penguatan jangka pendek tetap terbuka.
Baca Juga: Bitcoin Berisiko Turun ke Bawah US$ 80.000, Ini Pemicunya
Founder WH-Project sekaligus pengamat pasar modal William Hartanto menilai tekanan terhadap IHSG belum berakhir. Menurut dia, pelaku pasar masih menunggu kejelasan keputusan MSCI.
Kondisi tersebut tercermin dari nilai transaksi yang menurun dan aktivitas perdagangan yang relatif sepi.
Secara teknikal, William memperkirakan level support IHSG berada di 5.789, sedangkan resistance berada di 5.954.
Dengan posisi indeks yang masih rentan, investor perlu mencermati pergerakan IHSG untuk melihat apakah tekanan jual mulai mereda.
William juga menilai kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang memperluas cakupan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) tidak serta-merta menjadi sentimen negatif.
Baca Juga: Bibit Terus Perkuat Literasi Reksa Dana
Saham yang masuk kategori tersebut tidak otomatis melakukan pelanggaran, sehingga investor perlu memahami substansi kebijakan sebelum mengambil kesimpulan mengenai prospek saham terkait.
Senada, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat IHSG masih berada dalam tren menurun atau downtrend, dengan tekanan sentimen dari dalam dan luar negeri.
Dalam jangka pendek, IHSG berpeluang menguat ke kisaran 5.943–5.978. Namun, investor tetap perlu mengantisipasi potensi koreksi ke area 5.744–5.794.
Dari eksternal, perkembangan konflik di Timur Tengah menjadi perhatian karena berpotensi mendorong kenaikan harga energi dan memicu tekanan inflasi global.
Pasar juga mencermati arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, yang dinilai masih cenderung ketat atau hawkish. Ketidakpastian terkait MSCI turut membuat investor berhati-hati dalam mengambil posisi.
Di tengah kondisi tersebut, William menyarankan investor menerapkan strategi wait and see hingga IHSG menunjukkan tanda-tanda pembentukan titik terendah atau bottoming.
Baca Juga: IHSG Terkoreksi 0,17% ke 5.925, Cek Saham yang Banyak Dijual Asing, Selasa (13/10)
Setelah indeks memperlihatkan stabilisasi, investor dapat mulai melakukan pembelian saham secara bertahap.
Herditya juga menyarankan investor menerapkan strategi wait and see atau buy on weakness, dengan tetap memperhatikan pergerakan indeks dan risiko koreksi.
Untuk pilihan saham, William mengaku belum memiliki sektor maupun saham unggulan yang secara khusus direkomendasikan dalam kondisi pasar saat ini.
Investor pun perlu tetap selektif dengan mempertimbangkan perkembangan sentimen pasar dan fundamental masing-masing emiten sebelum mengambil keputusan investasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














