kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Minyak tumbang terpicu profit taking


Selasa, 22 Agustus 2017 / 07:48 WIB
Minyak tumbang terpicu profit taking

Sumber: CNBC | Editor: Dupla Kartini

KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia tumbang meski di tengah sinyal penyeimbangan suplai global. Ditengarai pelaku pasar mengambil untung setelah harga naik signifikan.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate di Nymex-AS ditutup turun 2,4% ke level US$ 47,37 per barel, Senin (21/8). Padahal, sesi sebelumnya, harga minyak melesat 3%.


Sejak pekan lalu, harga minyak cukup kuat, karena ada sinyal pasar global mulai menyeimbangkan kelebihan pasokan. Baker Hughes melaporkan, pekan ini, mengoperasikan 763 unit rig, turun lima unit dari pekan sebelumnya. Pengurangan rig sudah berlangsung dua pekan berturut-turut.  "Jumlah rig turun paling besar sejak Januari, menambah sinyal bahwa pasar sedang diperketat," kata Bank ANZ.

Selain itu, persediaan minyak mentah AS sudah turun hampir 13% dari puncak bulan Maret menjadi 466,5 juta barel. 

Azerbaijan, meski bukan anggota OPEC, telah berkomitmen untuk mengurangi produksi. Sementara, Libia mengumumkan kondisi force majeure pada ladang minyak Sharara, karena penyumbatan pipa.

Sebelumnya, harga minyak tertekan karena upaya OPEC memangkas produksi diimbangi dengan kenaikan produksi di Amerika.

"Kami saat ini melihat beberapa aksi ambil untung setelah reli kuat hari Jumat menjelang rilis data stok pekan ini," kata Hans van Cleef, Ekonom energi di ABN Amro seperti dilansir CNBC.

"Ketidakpastian tentang persediaan dan kepatuhan OPEC (memangkas produksi yang disepakati) bisa menjadi alasan yang cukup untuk memasang posisi jual," imbuhnya.

Data Commodity Futures Trading Commission, Jumat, menunjukkan investor telah memangkas ekspektasi bullish pada minyak mentah AS untuk pekan kedua berturut-turut. Namun, para investor di Eropa tidak setuju mengenai proyeksi tersebut, karena data terakhir dari InterContinental Exchange menunjukkan spekulan menaikkan ekspektasi bullish minyak Brent pada pekan lalu.




TERBARU

Close [X]
×