kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.729.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.728   9,00   0,05%
  • IDX 6.255   247,31   4,12%
  • KOMPAS100 831   37,01   4,66%
  • LQ45 625   27,23   4,56%
  • ISSI 213   7,03   3,41%
  • IDX30 354   15,20   4,48%
  • IDXHIDIV20 435   17,42   4,17%
  • IDX80 94   4,30   4,80%
  • IDXV30 116   2,90   2,56%
  • IDXQ30 114   4,59   4,21%

Minyak terjegal data ekonomi Jepang


Kamis, 23 Agustus 2012 / 07:54 WIB
ILUSTRASI. Petugas melayani nasabah di konter emas kantor pusat Pegadaian, Jakarta, Selasa (20/4/2021). (KONTAN/Fransiskus Simbolon)


Reporter: Anna Marie Happy | Editor: Rizki Caturini

JAKARTA. Meski persediaan minyak di Amerika Serikat (AS) turun, nyatanya itu tidak membuat harga minyak terangkat. Harga kontrak minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober di Bursa Komoditas New York, kemarin (22/8) malah turun 0,31% menjadi US$ 96,54 per barel dari sehari sebelumnya.

Sedangkan harga kontrak minyak jenis Brent untuk pengiriman Oktober di bursa London, kemarin, berada di level US$ 114,03. Itu sama saja turun 0,53% dari perdagangan sehari sebelumnya. Dalam sepekan, harga kontrak minyak jenis ini telah melemah sebesar 0,24%.

Sentimen negatif dari data defisit perdagangan Jepang yang lebih buruk dari ekspektasi ekonom serta perlambatan ekonomi di China tampaknya menahan kenaikan harga minyak. Namun, jika dihitung selama sepekan, harga minyak WTI masih terangkat sebesar 2,03%. Sedang, dalam sebulan terakhir, harga minyak mengalami penguatan 9,17%.

American Petroleum Institute (API) mengatakan, persediaan minyak mentah turun sebesar 6 juta barel pada pekan lalu menjadi 361 juta barel. Menurut survei Bloomberg, Departemen Energi AS kemungkinan akan melaporkan suplai minyak di AS akan berkurang 1,4 juta barel.

Dalam jangka menengah, harga minyak diprediksi masih dalam tren melemah. Itu lantaran kenaikan harga minyak telah cukup tinggi dalam beberapa hari terakhir.

Senior Analis Harvest International Futures, Ibrahim, bilang, pada Selasa (21/8), harga minyak sempat mencapai US$ 97,80 per barel. "Kenaikan harga minyak yang terjadi beberapa hari terakhir dipengaruhi oleh euforia China akan melakukan stimulus seperti yang dilakukan oleh European Central Bank (ECB)," ujar Ibrahim. Lembaga keuangan di Uni Eropa itu akan mengambil langkah untuk menurunkan yield obligasi di Italia dan Spanyol.

Analis Monex Investindo Futures, Ariana Nur Akbar mengatakan, selain dipengaruhi oleh turunnya persediaan minyak di AS, adanya pembatasan impor minyak dari Iran oleh negara pengimpor minyak seperti India dan China turut berimbas terhadap kenaikan harga minyak. “Akibatnya, mereka mengambil dari produsen minyak lain sehingga harga menjadi naik,” kata dia.

Ariana melihat, kalau sekarang harga minyak kembali turun, itu merupakan hal yang wajar. Lantaran, kenaikan harga kemarin sudah melampaui batas teknikal, serta di luar ekspektasi para analis. Selain itu, "Data ekonomi global belum ada yang mendukung kenaikan harga minyak,” kata Ariana.

Cenderung turun

Hingga akhir pekan ini, Ibrahim memprediksi harga minyak akan cenderung turun. Secara teknikal, bollinger 20 menunjukkan harga minyak 70% bergerak ke atas. Itu mengindikasikan harga akan bergerak positif. Kenaikan harga juga ditunjukkan oleh moving average yang naik, sebesar 70%.

Namun indikator stochastic 70% bergerak ke bawah. Ini mengindikasikan akan ada penurunan yang cukup tajam. Relative strength index (RSI) 60% ke bawah mengindikasikan masih ada penurunan harga minyak. Tren yang sama juga ditunjukkan oleh indikator moving average convergence-divergence (MACD) yang bergerak ke bawah.

Menurut Ibrahim, kemungkinan besar harga minyak masih akan bergerak turun di kisaran US$ 92,57- US$ 97,97 per barel. Data penting seperti penjualan rumah di AS akan mempengaruhi harga minyak dalam sepekan ke depan.

Namun, Ariana memprediksi harga minyak masih akan bergerak naik walaupun ada potensi jenuh beli. Langkah ECB meredam yield obligasi di beberapa negara Eropa diprediksi bisa mengangkat harga minyak. Prediksi Ariana, harga minyak bergerak di support US$ 95,28 dan res

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×