kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Meski terus tertekan, pasar obligasi Indonesia dinilai masih punya prospek menarik


Minggu, 29 Maret 2020 / 13:47 WIB
ILUSTRASI. Aktivitas karyawan yang memantau perdagangan obligasi atau surat utang di dealing room Bank BRI di Jakarta.


Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Herlina Kartika Dewi

“Investor akan kembali masuk ke pasar obligasi karena dipandang memberikan return yang lebih menarik serta tidak terlalu volatile. Ditambah lagi jika kondisi makro ekonomi dalam negeri terpantau stabil dan rupiah kembali menguat, maka besar kemungkinan asing akan kembali masuk ke pasar SBN,” kata Lili.

Terkait instrumen obligasi yang lebih menarik, Lili menyebut obligasi negara saat ini jauh lebih menarik dibanding obligasi korporasi. Hal ini disebabkan obligasi negara bebas risiko serta lebih likuid di pasar sekunder.

“Kalau obligasi korporasi meski memberikan kupon yang lebih tinggi, kan ada potensi penundaan pembayaran kupon atau gagal bayar akibat dari pemulihan dampak virus corona,” tambah Lili.

Sementara Rudiyanto melihat obligasi korporasi juga dalam keadaan yang cukup menantang. Pasalnya permintaan akan persentase kupon akan menjadi lebih tinggi dan dinilai Rudiyanto bisa memberatkan bagi para emiten.

Baca Juga: Recovery bond dinilai bisa menjadi solusi untuk topang likuiditas di pasar

“Tapi pada akhirnya masing-masing punya karakter tersendiri, jadi sesuaikan dengan profil risiko saja. Obligasi negara lebih likuid tapi harganya fluktuatif, sementara obligasi korporasi lebih stabil tapi kurang likuid,” tukas Rudiyanto

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×